Selasa, 02 Mei 2017

Everything Has Changed chap 2



Everything Has Changed
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Don’t like, don’t read.
Jika sudah membaca dan tidak suka, anggap saja Anda mendapat lotre,
yang isinya ‘coba lagi’
.
.
Enjot it^^
.
.

Terkadang aku ingin jadi cenayang
Agar aku tahu apa isi hatimu…

Di sebuah kelas, seorang gadis berambut panjang terlihat sedang tertidur miring di meja kelasnya. Tak memperdulikan suasana kelas yang bising. Melipat kedua lengan tangannya ke meja untuk menyangga kepalanya. Keringat dingin terlihat sedikit menghiasi pelipisnya. Kelopak matanya yang tertutup, menyembunyikan bola matanya yang indah, terlihat bergerak tidak nyaman.  Bibirnya sedikit bergerak menggumamkan sesuatu yang tak jelas didengar.

Dirinya berlari kencang, tak memperdulikan seragam sekolahnya yang basah. Hujan turun dengan deras. Ia melewati jalan yang biasa ia lalui untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Telinganya mendengar suara aneh, seperti suara benda terjatuh dan teriakan seseorang. Ia merasa familiar dengan teriakan itu. Memfokuskan telinganya, ia mendengar suara-suara itu dari gang di depannya. Ada banyak gang di perumahan ini. Tapi suara itu berasal dari gang sebelah kiri di depannya.
Tap. Tap. Tap.
Pelan, pelan, pelan. Melangkahkan kakinya perlahan mungkin, ia mencoba menengokkan kepalanya. Dan yang ia lihat adalah sekumpulan pemuda yang babak belur. Satu orang yang mencoba berdiri dari tubuhnya yang telungkup, tiga orang yang masih memukuli seseorang yang sudah terbaring tidak berdaya. Dan yang paling membuat matanya terbelalak, orang yang terbaring bersimbah darah itu adalah—
SRETT. BRAK.
Hinata tersentak kaget, mengerjapkan kelopak matanya kemudian bangun dari tidurnya. Mimpi itu lagi, pikirnya. Atensinya kemudian beralih kepada seseorang yang membuka pintu kelasnya dengan tidak wajar. Pemuda berambut pirang bermata biru itu sekarang sedang berdiri di depan pintu dengan cengiran khasnya.Tatanan rambut dan seragam sekolahnya selalu tidak rapi. Kemejanya tidak dimasukkan, tidak memakai dasi, dan ada sebuah ikat kepala berwana hitam di dahinya. Dan Lihatlah deretan gigi-gigi putih itu yang kontras sekali dengan wajahnya. Tersenyum lebar seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Malas, Hinata merasa malas. Pasti setelah ini pemuda itu akan melakukan ritual paginya.
“Ohayou Minna.” Teriak pemuda itu. “Sepulang sekolah, ada yang mau bertanding denganku?”
Ini bahkan masih pagi dan pemuda itu sudah berkata pulang sekolah. Kebiasaan pemuda itu, mengajak teman-temannya bertanding, kebiasaan yang aneh, pikir Hinata.
Menarik nafas panjang, kemudian mengusap peluh yang membasahi dahinya dengan tangan kirinya, Hinata menidurkan kembali kepalanya, tapi tak menutup mata, hanya melihat ke luar jendela. Ia berada di meja deret kedua dari depan, paling kiri dari arah pintu.
Anak-anak yang lain yang semula diam karena kedatangan pemuda itu mulai ribut kembali. Pemuda itu menggerutu sebal karena tak ada yang merespon. Tetapi matanya kemudian bersinar, seolah menemukan mangsanya, melompati meja, dan hap.
Bertanya  pada temannya, “Bagaimana denganmu  Sasuke?”
“Tidak, Na-ru-to.” Menekankan kalimatnya pada akhir kata, nama dari pemuda berambut pirang itu.
Naruto, pemuda berambut pirang itu, menengok ke arah lain, “ Kalau kau Shikamaru?”
Pemuda berambut nanas menguap malas, kemudian berkata, “Merepotkan.” Lalu tertidur kembali.
Oh, pemuda berambut pirang itu tidak tahu saja, menawarkan sesuatu pada Shikamaru di pagi hari adalah  hal yang percuma.
“Kau kiba?”bertanya pada Kiba, pemuda dengan garis segitiga merah terbalik pada pipinya.
Kiba berkata, “Aku lebih senang bermain dengan Akamaru.”
“Cih, memangnya boleh ya membawa anjing ke kelas.” Naruto berkata kesal dan mendapat tatapan tajam dari Kiba.
Naruto kemudian melihat ke sekeliling, ada Chouji yang sedang memakan kripiknya, Lee yang sedang berteriak tentang semangat masa mudanya dengan Tenten, Sakura yang sedang berdebat dengan Ino, dan Sai yang sedang melukis di pojok ruangan.
Naruto menggeleng pelan, tidak ada yang bisa diajak. Terkadang ia berpikir bagaimana bisa ia dan teman-teman lamanya sekelas terus menerus selama tiga tahun, padahal ada pergantian kelas. Naruto duduk ke bangkunya, masih dengan senyum mengembang. Tapi ketika mata birunya melihat ke arah gadis yang sedang menelungkupkan kepalanya miring ke kiri ke arah jendela itu, senyumnya memudar, matanya meredup.
Naruto tidak mungkin melupakan eksistensi gadis itu, dan dengan posisi tempat duduknya ini yang berada di paling pojok dan hanya berjarak dua meja dari gadis itu, ia bisa leluasa memandangnya walau hanya dari belakang.
.
SKIP TIME
.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Hinata memandang ke bawah, tertarik dengan sesuatu yang berkerumun. Ada banyak orang di lapangan.
Dor.
“Kyaaa.” Reflek Hinata menjerit. Menengokkan kepalanya melihat pelakunya. Begini-begini, ia juga tidak suka dikagetkan. “Tenten.” Menatap tajam Tenten yang sekarang telihat merasa bersalah.
“Maaf-maaf, tidak sengaja.” Tidak sengaja katanya? Hinata bahkan hampir jantungan.
Tidak menghiraukan tatapan Hinata “Kenapa belum pulang?” gadis bercepol dua itu bertanya.
Hinata menunjukkan telunjuknya ke bawah, mereka memang berada di lantai tiga.
“Kau tertarik? Ayo kita lihat.”
“Tunggu— “ Tanpa menghiraukan Hinata, Tenten tetap menarik lengannya untuk turun ke lantai bawah.
.
.
Naruto sedang menggiring bola, terus melewati pemain-pemain yang lain. Sasuke menghadang.
“Jangan harap kau bisa lewat, Naruto.” Sasuke mengucap sambil mencoba mengambil bola.
Oh ternyata mereka lawan. “Tentu saja bisa, Sasuke.”
“Apa kau gugup?” Tanya Sasuke lagi.
“Heh? Kenapa aku harus—“ sebelum Naruto sempat berucap Sasuke memotong.
“Ada Hyuuga di bangku penonton.” Seketika Naruto menengokkan kepalanya. Dan ya, disana ada Hinata sedang memandang ke arahnya. Ketika Naruto menengokkan kepalanya lagi untuk berhadapan dengan Sasuke. Sret, sret. Bola sekarang berada di kaki Sasuke. Dan Naruto baru menyadarinya ketika Sasuke sudah berlari kearah gawang dan memasukkan bola.
“Kau curang, Teme,” teriak Naruto tidak terima, merasa dicurangi tapi jika dilihat lebih dekat, ada semburat merah di pipinya. Lagipula ia malu karena dikerjai oleh Sasuke, perhatiannya bisa teralihkan dengan mudahnya hanya dengan mendengar nama gadis berambut panjang itu.
“Dasar dobe,” ucap Sasuke.
Pertandingan terus berlanjut sampai akhirnya Naruto terjatuh, tersandung kaki lawan.
“ Sial, kenapa hari ini aku sial sekali.” Naruto menggerutu pelan sambil mencoba berdiri. Mata kakinya lecet. Luka segini sih tak seberapa, pikirnya.
.
.
Hinata hanya sekedar iseng melihat pertandingan itu, tampaknya Sasuke dkk berubah pikiran dan menerima ajakan Naruto. Hinata juga melihat  itu, ketika Sakura berdebat dengan Naruto. Setelah Naruto terjatuh, sepertinya Naruto tak mau diobati.  Jarak antara bangku penonton dan lapangan cukup jauh, walaupun ini lapangan outdoor,  jadi ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Hei-hei lihat, bukankah itu Sakura senpai?”
“Kau benar. “
“Apa menurutmu, pertandingan ini untuk taruhan?”
“Apa maksudmu?”
“Mungkin saja, siapa yang akan memenangkan pertandingan ini akan menjadi kekasih Sakura senpai.”
“Oh benar juga, ku dengar Sasuke senpai dan Naruto senpai menyukai Sakura-san.”
Hinata mendengar itu tentu saja, obrolan adik kelas yang ada di depan bangku mereka. Hinata tau, Sakura ada disitu selain sebagai sahabat Sasuke dan Naruto tetapi juga sebagai petugas kesehatan. Jadi jika ada pemain yang terluka, tentu saja ia wajib mengobatinya. Dan sepertinya hal tadi yang diperdebatkan mereka.
Beralih ke arah Tenten yang ada di sebelah kanannya dan berkata, “Tenten, ayo pulang.”
Menanggapi perkataaan Hinata, Tenten berucap, “Eh, kenapa?”
Tenten ternyata sedang menonton Chouji yang sedang menggiring bola yang ternyata juga ikut pertandingan, Keripik kentang yang biasa ia Chouji makan sudah hilang entah hilang kemana.
“Aku tidak harus menonton sampai selesai.” Berdiri dari bangku penonton, Hinata berlalu pergi.
Menghembuskan nafas kasar, Tenten menunjuk dua orang perempuan didepannya, adik kelasnya, sambil berucap, “Awas ya kalian.”
Dua orang itu menengok ke belakang, mendapati Tenten yang memandang mereka tajam. Membuat bulu kuduk mereka merinding. Tanpa tau penyebab mengapa kakak kelasnya bertindak seperti itu.
Usut punya usut, Tenten juga ikut mendengar percakapan adik kelasnya itu, dan ia menduga kalau hal itu yang menyebabkan Hinata kesal. Padahal belum tentu.
Tenten berlari menyusul Hinata. Ia tidak mungkin meninggalkan Hinata pulang sendirian. Ia bukanlah orang yang akan meninggalkan temannya sendiri demi kepentingan pribadi. Walaupun ia ingin menonton pertandingan ini sampai selesai.
“Hinata, tunggu aku.”
.
.
Mentari sore bersinar. Ternyata pertandingan itu memakan waktu lama. Pertandingan sudah selesai, dan hasilnya dimenangkan oleh Sasuke.
Tuk.. Tuk.. Tuk.. Sambil berjalan pulang ke rumah. Naruto menendang-nendang batu kerikil yang ada di aspal. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Tidak biasanya ia kalah. Padahal ada gadis itu, kenapa ia harus kalah?. Ah sudahlah, yang pentingkan tadi gadis itu menonton, pikir Naruto. Ia tersenyum tipis, hatinya sedikit menghangat. Pasalnya gadis itu memang tidak pernah melihat pertandingannya, yah walaupun hanya beberapa kali ia bertanding sepak bola, karena biasanya ia lebih suka tawuran atau berkelahi.
Memandang ke langit yang mulai berwarna jingga, karena terkena bias cahaya mentari sore, Naruto bergumam, “ Berkelahi ya?” Matanya menerawang.

Menengok ke belakang, penyesalan yang kau dapat
Berlari ke depan, tak tahu apa yang akan kau gapai
Meskipun begitu, bolehkah tetap mencoba?
Selama yang bernama asa itu masih ada?
.
.
.
Tbc





Everything Has Changed



Everything Has Changed
Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto
Karizz-taka (Karizzta)
Present
.
.
.
Enjoy It^^
.
.
Awal
.
.
Hal pertama yang Hinata sadari adalah bahwa dirinya sedang terbaring di dalam kamarnya. Hinata merasa sedang dalam keadaan yang tidak baik. Hinata mencoba untuk bangun dari tidurnya, tetapi kepalanya terasa berat. Rasa pusing mendera Hinata, seperti benda di sekelilingnya berbayang dan berputar ke segala penjuru. Hinata mencoba berkata-kata tapi lidahnya terasa kelu. Dirinya dapat mendengar suara berisik yang konstan dan terus menerus, seperti bunyi air yang jatuh dengan kapasitas yang besar dari arah jendela di sebelah kanannya yang tertutup korden. Bunyi itulah yang membangunkan gadis berambut panjang itu.
Hinata mencoba membuka mata sekali lagi. Namun dapat dirinya rasakan ada sinar yang membutakan penglihatannya. Ketika mata Hinata tertutup lagi, Hinata mendengar suara pintu yang tergeser. Sekali lagi Hinata coba membuka mata, tetapi kini lebih perlahan. Semuanya terlihat buram, namun lama kelamaan Hinata dapat menangkap warna langit-langit kamarnya dengan jelas. Saat Hinata mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Hinata mencoba menengok ke arah kiri, tapi nyarasakan lehernya terasa kaku. Sebenarnya, berapa lama Hinata tertidur?! tanya Hinata pada dirinya sendiri.
Sekali lagi Hinata mencoba untuk berbicara, namun tenggorokannya terasa kering. Hinata mencoba menelan ludah dan membasahi kerongkongannya tetapi mulutnya terasa bagai ada sesuatu yang mengganjal, seperti Hinata telah menelan duri ikan, rasanya sangat sakit. Hinata tidak bisa memastikan waktu yang tepat pada saat itu. Ia  pikir hari telah malam, tidak ada sinar matahari yang masuk dari sela-sela korden. Saat Hinata mencoba bangun dengan bertumpu pada kedua tangan yang masing-masing berada di sisi tubuhnya, Hinata merasa akan jatuh kembali sebelum ada tangan seseorang yang menyangga punggungnya. Hinata mendongak ke atas, seseorang itu seorang gadis mungil yang memandangnya dengan tatapan khawatir. Dia adiknya, Hanabi.
Hinata mendengar suara air yang dituang di gelas. Hanabi menyangga bantal di belakang kepala Hinata, agar posisi kepala Hinata lebih tinggi, membuatnya berbaring dengan lebih nyaman kemudian menyuruhnya meminum air. Hinata menurut. Lagipula Hinata merasa haus dan sakit hampir di seluruh bagian tubuhnya, mungkin efek dari tidur lama. Hinata alihkan perhatiannya untuk mengenali sekelilingnya. Ini benar kamarnya, karena Hinata melihat jendela besar di sebelah kanannya dan rangkaian bunga lavender, bunga favoritnya, di atas sebuah meja.
“Sudah merasa lebih baik Kak?” tanya Hanabi kepadHinata, dengan suara berbisik.
Hinata mengangguk. Hinata sebetulnya ingin bertanya kepadanya mengenai beberapa hal yang terjadi, tapi ia urungkan karena tenggorokannya masih terasa sakit.
“Jangan dipaksa Kak. Hanabi keluar dulu, sebentar lagi makan malam. Akan kusiapkan untuk Kakak juga.” Dengan itu, Hanabi keluar dari kamarnya diiringi suara pintu yang tertutup.
Hinata  menatap langit-langit kamarnya, warna keabu-abuan memenuhi penglihatannya. Hinata menarik napas panjang ketika tiba-tiba beberapa hal mulai melintas kembali dalam memorinya. Hinata masih ingat, hari itu, di suatu sore yang mendung, Hinata sama sekali tidak mempunyai firasat apapun. Hinata  berdiri di sebuah halte dekat sekolah. Sendirian, menunggu seseorang yang katanya akan menjemputnya. Melewatkan bis terakhir yang melewati sekolahnya. Bola mata Hinata berkali-kali melirik dengan gelisah ke arah telepon genggam yang ia pegang. Entah sudah berapa kali Hinata mencoba menghubungi kakaknya, tapi tak ada balasan. Kakaknya tadi mengirimkan pesan, mengatakan bahwa ia akan menjemputnya. Tapi ini hampir satu jam berlalu dan ia tak kunjung datang. Gelisah mulai menghampirinya, ini sudah hampir malam. Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna merah bercampur jingga di langit.
Tuk.Tuk.Tuk. suara yang terbentuk dari sepatu yang terbentur aspal jalanan akibat buah dari ketidaksabaran Hinata mulai memenuhi telinganya.  Hinata ketuk-ketuk kaki kanannya yang diselubungi sepatu hitam berkaos kaki putih, mencoba mengalahkan detak jantungnya sendiri. Hinata juga menggigit-gigit nyanya ibu jari kanannya ketika yang ditunggu tak muncul. Bulir-bulir keringat mulai hadir di pelipisnya, entah kenapa Hinata  merasa cemas bukan main, pasalnya kakaknya hampir tak pernah mengingkari janji. Jika kakaknya itu tidak bisa datang maka ia akan mengatakan atau menghubunginya terlebih dahulu. Hinata mengedarkan pandangan lurus ke depan, jalanan sepi, tak biasanya.
Angin bertiup, menerbangkan beberapa helai rambut hitam panjangnya. Hinata melihat ke atas, langit sekarang gelap diliputi awan, padahal tadinya masih cerah walau tak dihiasi bintang. Rintik hujan turun perlahan, membasahi jalan. Teringat, bus yang lewat tadi adalah bus terakhir yang melewati jalan di sekolah. Perasaannya mulai tak enak. Lagi, Hinata melihat ke jalanan yang sepi. Hinata memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Berlari pelan sambil melihat sekeliling, barangkali Hinata dapat bertemu kakaknya di jalan.
Hinata berlari kencang, tak memperdulikan seragam sekolahnya yang basah. Hujan turun dengan deras. Mungkin orang-orang yang nantinya melihat, akan berpikir Hinata bodoh, dimana Hinata bisa naik bus atau berteduh di depan toko. Tapi baginya saat itu sudah terlanjur. Jika basah, basah saja sekalian. Lagipula Hinata tadi berniat sekalian mencari kakaknya. Syukur-syukur ketemu. 
Melewati jalan yang biasa Hinata lalui untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Telinga Hinata mendengar suara aneh, seperti suara benda terjatuh dan teriakan seseorang. Hinata merasa familiar dengan teriakan itu. Memfokuskan panca inderanya, Hinata mendengar suara-suara itu dari gang di depannya. Ada banyak gang di perumahan ini. Tapi suara itu berasal dari gang sebelah kiri di depannya.
Tap. Tap. Tap. Pelan, pelan, pelan. Ia langkahkan kakinya sepelan mungkin, Hinata mencoba menengokkan kepalanya. Dan yang Hinata lihat adalah sekumpulan pemuda yang babak belur. Satu orang yang mencoba berdiri dari tubuhnya yang telungkup, tiga orang yang masih memukuli seseorang yang sudah terbaring tidak berdaya. Dan yang paling membuat mata Hinata terbelalak, dirinya yakini orang yang terbaring bersimbah darah itu adalah kakaknya.
Benar, Hinata memang menemuinya di jalan, hampir sekarat berlumuran darah di sebuah gang sepi di pinggir jalan.
Semuanya bagaikan bergerak  lambat. Pandangannya beralih dari tubuh Kakaknya ke wajah orang-orang di sekitarnya yang mulai menghentikan kegiatannya kemudian berlari pergi. Kemudian, satu hal yang Hinata ingat hari itu adalah suara teriakannya yang memekakkan telinga, menembus suara derai air hujan yang jatuh.
Lalu semuanya gelap.






Senin pagi



Ku dengar goncangan di tubuhku, lalu suara lirih yang menggumamkan namaku mulai terdengar. "Nin, bangun," Ucap suara itu dan ku jawab hanya dengan gumaman. Ku sadari itu suara ibuku. Suara itu tak terdengar lagi, tetapi berganti dengan tarikan pada jempol kakiku.
"Kak, bangun." Aku mendengar suara adikku samar-samar. Aku berguling ke samping, masih tetap memeluk bantal guling kesayanganku. "Kak," ucapnya sambil menarik-narik kakiku yang berada di ujung kasur.
"iya," Jawabku lirih sambil mencoba bangun. Meski begitu, bola mataku masih begitu berat untuk dibuka, seperti ada lem yang menempel. Setelah beberapa saat, aku masih mengatur nyawaku untuk terkumpul dengan duduk di tepi kasur, kakiku menjuntai tak menyentuh lantai. Ku lirik jam dinding yang berada di kamarku. Pukul lima pagi.
Setelah sholat shubuh, aku mulai terlelap lagi. "sebentar saja," Ucapku dalam hati. Tak lupa untuk memasang alarm handphoneku.
Hari senin, awal yang baru untuk mulai belajar. Hari dimana orang-orang memulai aktivitasnya. Setelah sarapan, aku mulai berpamitan pada kedua orang tuaku. Rutinitas sebelum berangkat sekolah adalah bersalaman, mengecup punggung kedua orang tuaku.
Pintu rumah ku buka, tercium bau tanah bekas hujan semalam. Udara masih sejuk di pagi hari seperti ini. Awal yang bagus untuk menuju niat muliaku. Ku pikir begitu, namun semuanya pupus tatkala roda hitam itu berputar, menyisakan noda coklat pada kaos kaki dan sepatuku.
Setelah tadi membuka pagar rumah dan mengeluarkan motor biru kesayanganku. Aku mulai menaiki motorku, berniat untuk mengendarainya tatkala ku gulirkan mataku tuk melihat mobil putih bergerak di sampingku, yang pada akhirnya meninggalkan noda basah pada bagian kanan sepatuku.
Sialan, ucapku dalam hati. Ingatkan aku untuk meminta maaf pada guru agamaku di sekolah nanti.
Aku tak berniat untuk mencari masalah dengan mobil putih itu, lebih tepatnya pada pemilik mobil putih itu karena ku lihat jam tanganku mulai menunjukkan angka yang membuatku menarik nafas dalam.
Biarkan saja, aku selalu meyakini ada balasan bagi setiap orang yang menyakiti orang lain. Tapi tetap saja, itu menyebalkan bagiku.


Flashback



Hal pertama yang aku sadari adalah bahwa aku sedang terbaring di dalam kamarku. Aku merasa sedang dalam keadaan yang tidak baik. . Kucoba untuk bangun dari tidurku, tetapi kepalaku terasa berat. Rasa pusing menderaku, seperti benda di sekelilingku berbayang dan berputar ke segala penjuru. Kucoba berkata-kata tapi lidahku terasa kelu. Aku dapat mendengar suara berisik yang konstan dan terus menerus, seperti bunyi air yang jatuh dengan kapasitas yang besar dari arah jendela di sebelah kananku yang tertutup korden. Bunyi itulah yang membangunkanku.

Aku mencoba membuka mataku sekali lagi. Kurasakan ada sinar yang membutakan penglihatanku. Ketika mataku tertutup lagi, aku mendengar suara pintu yang tergeser.Sekali lagi kubuka mataku, tetapi kini lebih perlahan. Semuanya terlihat buram, namun lama kelamaan aku dapat menangkap warna langit-langit kamarku dengan jelas. Saat aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, aku mencoba menengok ke arah kiri, tapi kurasakan leherku terasa kaku. Sebenarnya, berapa lama aku tertidur?! tanyaku pada diri sendiri.

Sekali lagi kucoba untuk berbicara, namun tenggorokanku terasa kering. Kucoba menelan ludah dan membasahi kerongkonganku tetapi mulutku terasa bagai ada sesuatu yang mengganjal, seperti aku telah menelan duri ikan, rasanya sangat sakit. Aku tidak bisa memastikan waktu yang tepat pada saat itu. Ku pikir hari telah malam, tidak ada sinar matahari yang masuk dari sela-sela korden. Saat aku mencoba bangun dengan bertumpu pada kedua tangan yang masing-masing berada di sisi tubuhku, aku merasa akan jatuh kembali sebelum ada tangan seseorang yang menyangga punggungku. Aku mendongak ke atas, seseorang itu seorang gadis mungil yang memandangku dengan tatapan khawatir. Dia adikku, Hanabi.

Aku mendengar suara air yang dituang di gelas. Hanabi menyangga bantal di belakang kepalaku, agar posisi kepalaku lebih tinggi, membuatku berbaring dengan lebih nyaman kemudian menyuruhku meminum air. Aku menurut. Lagipula aku merasa haus dan sakit hampir di seluruh bagian tubuhku, mungkin efek dari tidur lama. Kualihkan perhatianku untuk mengenali sekelilingku. Ini benar kamarku, karena aku melihat jendela besar di sebelah kananku dan rangkaian bunga lavender, bunga favoritku, di atas sebuah meja.

"Sudah merasa lebih baik Kak?" tanya Hanabi kepadaku, dengan suara berbisik.
Aku mengangguk. Aku sebetulnya ingin bertanya kepadanya mengenai beberapa hal yang terjadi, tapi kuurungkan karena tenggorokanku masih terasa sakit.
"Jangan dipaksa Kak. Aku keluar dulu, sebentar lagi makan malam. Akan kusiapkan untuk Kakak juga." Dengan itu, Hanabi keluar dari kamarku diiringi suara pintu yang tertutup.

Aku menatap langit-langit kamarku, warna keabu-abuan memenuhi penglihatanku. Aku menarik napas panjang ketika tiba-tiba beberapa hal mulai melintas kembali dalam memoriku. Aku masih ingat, hari itu, di suatu sore yang mendung, aku sama sekali tidak mempunyai firasat apapun. Aku berdiri di sebuah halte dekat sekolah. Sendirian, menunggu seseorang yang katanya akan menjemputku. Melewatkan bis terakhir yang melewati sekolahku. Bola mataku berkali-kali melirik dengan gelisah ke arah telepon genggam yang ku pegang. Entah sudah berapa kali aku mencoba menghubungi kakakku, tapi tak ada balasan. Kakakku tadi mengirimkan pesan, mengatakan bahwa ia akan menjemputku. Tapi ini hampir satu jam berlalu dan ia tak kunjung datang. Gelisah mulai menghampiriku, ini sudah hampir malam. Matahari mulai tenggelam, menyisakan warna merah bercampur jingga di langit.

Tuk.Tuk.Tuk. suara yang terbentuk dari sepatu yang terbentur aspal jalanan akibat buah dari ketidaksabaranku mulai memenuhi telingaku. Ku ketuk-ketuk kaki kananku yang diselubungi sepatu hitam berkaos kaki putih, mencoba mengalahkan detak jantungku sendiri. Aku juga menggigit-gigit kuku ibu jari kananku ketika yang ditunggu tak kunjung muncul. Bulir-bulir keringat mulai hadir di pelipisku, entah kenapa aku merasa cemas bukan main, pasalnya kakakku hampir tak pernah mengingkari janji. Jika kakakku itu tidak bisa datang maka ia akan mengatakan atau menghubungiku terlebih dahulu. Aku mengedarkan pandangan lurus ke depan, jalanan sepi, tak biasanya.

Angin bertiup, menerbangkan beberapa helai rambut hitam panjangku. Aku melihat ke atas, langit sekarang gelap diliputi awan, padahal tadinya masih cerah walau tak dihiasi bintang. Rintik hujan turun perlahan, membasahi jalan. Teringat, bus yang lewat tadi adalah bus terakhir yang melewati jalan di sekolah. Perasaanku mulai tak enak. Lagi, aku melihat ke jalanan yang sepi. Aku memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Berlari pelan sambil melihat sekeliling, barangkali aku dapat bertemu kakakku di jalan.
Aku berlari kencang, tak memperdulikan seragam sekolahku yang basah. Hujan turun dengan deras. Mungkin orang-orang yang nantinya melihat, akan berpikir aku bodoh, dimana aku bisa naik bus atau berteduh di depan toko. Tapi bagiku saat itu sudah terlanjur. Jika basah, basah saja sekalian. Lagipula aku tadi berniat sekalian mencari kakakku. Syukur-syukur ketemu.

Melewati jalan yang biasa aku lalui untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba langkah kakiku berhenti. Telingaku mendengar suara aneh, seperti suara benda terjatuh dan teriakan seseorang. Aku merasa familiar dengan teriakan itu. Memfokuskan panca inderaku, aku mendengar suara-suara itu dari gang di depanku. Ada banyak gang di perumahan ini. Tapi suara itu berasal dari gang sebelah kiri di depanku.

Tap. Tap. Tap. Pelan, pelan, pelan. Kulangkahkan kakiku sepelan mungkin, aku mencoba menengokkan kepalaku. Dan yang aku lihat adalah sekumpulan pemuda yang babak belur. Satu orang yang mencoba berdiri dari tubuhnya yang telungkup, tiga orang yang masih memukuli seseorang yang sudah terbaring tidak berdaya. Dan yang paling membuat mataku terbelalak, ku yakini orang yang terbaring bersimbah darah itu adalah kakakku.

Benar, aku memang menemuinya di jalan, hampir sekarat berlumuran darah di sebuah gang sepi di pinggir
jalan.

Semuanya bagaikan bergerak lambat. Pandanganku beralih dari tubuh Kakakku ke wajah orang-orang di sekitarnya yang mulai menghentikan kegiatannya kemudian berlari pergi. Kemudian, satu hal yang ku ingat hari itu adalah suara teriakanku yang memekakkan telinga, menembus suara derai air hujan yang jatuh.
Lalu semuanya gelap.

Terrarium