Story written by Karizzta
Part 1-Haidar
Orang bilang.. masa SMA adalah masa-masa yang indah. Masa dimana kamu akan
menjadi dewasa. Masa dimana kamu tidak akan pernah lupa. Karena itulah aku berharap aku akan mempunyai harapan baru dan tidak akan
pernah lupa. Karena itulah yang kupikirkan ketika aku menginjakkan kaki ke
sekolah ini. Tapi harapan itu sirna seketika.
BYUUR!
Saat sebuah air jatuh membasahi tubuhku ketika aku sedang berjalan di tepian koridor
sekolah menuju kelasku. Aku dengan segera menengok ke atas. Tepat dilantai tiga
itu aku melihat siluet dua orang yang dengan cepat berbalik menyembunyikan
tubuh mereka.
Masih pagi. Dan aku sudah diberi hadiah oleh orang yang tak kuketahui. Oh
mungkin saja aku tahu! pastinya kalau saja bisa melihat wajah mereka.
Aku melihat tubuhku yang basah kuyub. Semuanya basah. Dari rambutku yang
kukuncir satu, airnya menetes pelan turun dari atas kepala, melewati pipi dan
dagu kemudian jatuh ke bahu. Aku bertanya-tanya berapa banyak air di ember yang
mereka guyur ke badanku.
Aku melihat badanku yang basah. Untung saja aku memakai kaos pendek berwarna
hitam sebagai baju dalaman, kalau tidak aku pikir aku bakal malu setengah
hidup.
Bel kemudian berbunyi. Tanda masuk sekolah. Benar ini masih pagi dan aku
sudah mandi dua kali. Tiba-tiba saja aku mendapat ide. Aku masih punya baju
olahraga di lokerku.
Aku menuju tempat loker. Tempatnya agak terpisah dari kelas. Aku melihat
koridor yang telah sepi. Murid-murid telah memasuki kelas. Dan aku sekarang
tersadar kalau aku mungkin harus membolos jam pelajaran pertama.
Ku buka lokerku pelan-pelan. Dan betapa kagetnya ketika aku melihat beberapa
kecoa berurutan turun dengan langkah hati-hati agar tidak terpeleset dari loker
yang berbahan dasar besi. Oh Tuhan.. lebih kaget lagi ketika aku mencoba
melihat ke dalam loker dimana disitu terdapat baju olahragaku yang telah
terdapat beberapa butir telur atau feses dari sang kecoa yang sepertinya telah
menginap dengan damai semalaman di lokerku yang nyaman.
Sudah cukup! Kataku dalam hati.
Aku membanting pintu loker tanpa menguncinya kembali. Namun setelah beberapa
langkah berjalan, kemudian aku sadar, bagaimana jika ada yang menaruh kecoa
lagi atau mungkin hewan yang lebih mengerikan dari kecoa.
Kemudian aku berbalik untuk mengunci lokerku kembali. Kali ini aku
benar-benar mempunyai ide.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat ke arah ruang BK. Masa bodoh dengan aku
yang belum pernah melangkah masuk ruangan itu. Atau masa bodoh dengan rumor
yang mengatakan ruang BK itu menyeramkan.
Tok. Tok. Tok.
Aku mengetuk pintu ruangan BK. Ruangnya dekat dengan ruang guru. Hanya saja
ruang BK hampir seperti ruang kepala sekolah yang di dalamnya terdapat
sekat-sekat dan pintunya di dalamnya di lapisi kaca.
Sebelum pintu terbuka, aku menyempatkan diri untuk membuka tas selempangku.
Berharap di dalamnya masih ada beberapa buku yang dapat selamat. Saat aku akan
menarik resleting tasku untuk membukanya tiba-tiba pintu terbuka.
Ditengah-tengah pintu itu ada guru BK yang terkenal seantero sekolah. Itu
Pak Bambang, guru BK berkumis panjang yang katanya garang. Kenapa aku tahu?
Karena saat masa MOS sekolah, dia selalu nangkring di depan gerbang. Mampus!
Kenapa dari semua guru, harus dia yang jaga pada hari ini? Oh My God.
"Maaf pak, tidak jadi." Aku berkata saat Pak Bambang dengan
matanya yang tajam melihatku. Baru saja aku akan berbalik pergi dari
hadapannya. Pak Bambang memanggilku.
"Eh tunggu dulu? Kamu kenapa basah begitu?"
Aku berbalik dan tersenyum manis. Senyum manis memelas. Belum aku
mengeluarkan kata-kata, Bapak berkumis itu telah menyelanya terlebih dahulu.
"Nama kamu siapa?"
"Rere pak."
"Sini kamu," Katanya menyuruhku masuk ke dalam ruangan.
[.]
Hal pertama yang aku sadari adalah aku berada di dalam situasi yang tidak
menguntungkan. Aku tidak tahu mengapa aku dapat berada dalam situasi yang
awkward seperti ini. Setelah disuruh masuk ke ruang BK oleh Pak Bambang. Dia
tidaklah langsung menanyaiku. Dia malah pergi dan sekarang aku hanya berdua
bersama dengan cowok yang tidak kukenal. Duduk berdua di sofa melingkar yang
disediakan di ruang ini. Tidak peduli sofa itu basah. Mimpi apa aku tadi
semalam? Aku mencoba mengingat-ingat.
"Ck."
Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara aneh. Kupikir tadinya suara cicak.
Namun ternyata suara itu dibuat oleh makhluk yang berada di depanku.
Aku melirik ke arahnya. Dan dia langsung menatapku tajam. Tatapannya
lebih tajam dari Pak Bambang. Tatapannya seolah-olah mengatakan apa
lihat-lihat. Itu yang terbaca dariku. Tapi anehnya, aku penasaran dengannya.
Tidak pernah aku merasa sepenasaran ini dengan seseorang.
Cowok itu mengenakan jaket. Baju seragam sekolahnya dikeluarkan dan dia
tidak mengenakan dasi. Rambutnya berwarna pirang. Tunggu dulu, apa itu
benar-benar pirang? Aku mengedip-ngedipkan mataku. Atau karena ruangan ini yang
agak gelap, mataku menjadi rabun?
"Apa?" Tanyanya.
"Itu." Aku menunjuk kepalanya dengan tanganku. "Apa itu
berwarna pirang?" Lanjutku yang tanpa kusadari telah bertanya.
Dia memegang sebelah kepalanya, kemudian menjawab dengan ketus. " Bukan
urusan lo."
Aku merengut. Dan aku tidak mengerti mengapa aku harus merasa kesal karena
aku tidak mendapat jawaban atas pertanyaanku. Aku ingin mendapat jawaban atas
alasan mengapa dia harus mewarnai rambutnya.
Untunglah Pak Bambang kembali masuk sehingga rasa kesalku hilang. Tapi
sekarang berganti dengan rasa was-was. Apa aku bakal di skors? Atau bakal
disuruh membersihkan toilet yang baunya minta ampun itu? Aku menggeleng pelan.
"Kamu kenapa?" Tanya Pak Bambang.
"Eh, gak papa pak." Aku menjawab dengan pelan.
"Katanya bosen ngeliat wajah bapak." Satu suara yang tak enak
didengar keluar dari bibir cowok itu. Sontak aku melihat ke arahnya.
Aku menggeleng. Kemudian mendelik pada cowok itu. Dari bibirnya, dapat
kulihat kalau dia menahan senyum. Ragu-ragu, ku alihkan pandanganku pada Pak
Bambang yang ternyata sedang berjalan melangkah mendekati cowok itu.
TAK! Suara kepala dijitak dengan keras disertai keluhan."Aduh."
Dan aku ingin tertawa melihat cowok itu yang menahan sakit. Tapi aku hanya
menahannya.
"Saya yang sudah bosan melihat wajah bandelmu itu!" Kata Pak
Bambang pada cowok itu.
"Lepas jaket kamu." Perintah pak Bambang pada cowok itu.
Tanpa bertanya cowok itu melepas jaketnya. Kemudian memberikannya pada Pak
Bambang yang berdiri tepat di sampingnya.
"Berikan pada dia." Tunjuk Pak Bambang kepadaku.
Aku terkejut dan cowok itu juga sepertinya kaget tapi kemudian dengan cepat
memperbaiki mimik wajahnya. Dia melemparkan jaketnya sembarangan sehingga
mengenai wajahku.
Pak Bambang hanya menggeleng melihat kelakuan anak muridnya yang satu
itu.
"Tadi Saya cari handuk, ternyata tidak ada. Baru ingat kamu punya
jaket. Good job." Kata Pak Bambang.
Ternyata Pak Bambang baik juga, Pikirku dalam hati. Rumor yang beredar bahwa
pak Bambang itu galak ternyata salah.
Aku dengan cepat memakai jaket berwarna hitam itu, tidak lupa
meresletingnya. Aku melirik dari balik mataku pada cowok itu yang ternyata
sedang melihatku. Wajahnya terlihat tidak ikhlas.
"Oh ya, kamu boleh pergi. Besok itu rambut sudah harus warna hitam atau
bapak cukur botak." Pak Bambang berkata pada cowok itu.
“Iya-iya,” jawab cowok itu dengan malas-malasan. Pak Bambang cuma menggeleng
melihat kelakuannya.
Cowok itu kemudian pergi tanpa menengok kembali. Aku melihat punggungnya yang
berlalu pergi.
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di dalam kepalaku.
"Pak, boleh saya tanya? Anak yang keluar tadi namanya siapa ya?"
Tanyaku pada Pak Bambang.
"Kamu nggak kenal dia?" Tanya balik Pak Bambang yang sekarang
bahasanya lebih sedikit informal.
"Ternyata ada juga yang nggak kenal dia," ucap Pak Bambang
tersenyun tipis. Dia berjalan menuju mejanya kemudian merapikan buku-bukunya.
"Namanya Haidar, kelas 2 IPA 1. Kenapa?"
"Ma-mau ngembaliin jaket ini nanti Pak." Kataku cepat sambil
mengangkat sedikit jaket yang berada di dekapanku.
"Oh ya, tadi nama kamu siapa? Dari kelas apa? Kenapa bisa basah kuyub
begitu?" Tanya Pak Bambang bertubi-tubi dengan tatapan mengintimidasi.
Sekarang dia sudah duduk di hadapanku dengan siap siaga menginterogasiku.
Aku meneguk ludah. Berharap selamat kali ini. Aku tarik kata-kataku mengenai
pak Bambang yang ngga galak. Rumor yang beredar itu benar.
[.]
Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Ternyata aku sudah menghabiskan banyak
waktu dengan panjang lebar cerita sama pak Bambang mengenai masalahku. Tahu
jawaban apa yang kudapat setelah aku menceritakan semuanya.
“Kamu serius?
“Dua rius pak. Bapak kira aku bohong gitu?”
“Bukannya begitu Rene.”
“Rere pak.”
“Bapak nggak bisa percaya sama kamu begitu aja kalau belum ngelihat
langsung.” Pak Bambang berkata
dengan
nada lebih lembut dan informal denganku. Ssepertinya dia sudah akrab denganku.
Aku cuma diam, berkedip sekali, menatap lama mata pak Bambang. Lalu menghela
nafas. Rasanya ingin mencukur habis seluruh kumisnya.
“Begini... Pokoknya hari ini sekarang kamu bapak izinin pulang dulu.
Besok-besok bawa dua baju barangkali ada yang iseng lagi sama kamu.”
Parah ini Bapak! Aku sudah ngomong jujur tapi nyatanya ngga bisa percaya
sama aku. Dimana keadilan di dalam ruang BK ini? Apa aku juga harus nyuap pak
Bambang pakai martabak biar mihak aku? kayak satpam depan kompleks rumah biar
bukain portal kalau aku pulang kemalaman?
Sebelum aku pergi dari ruangan ini.
[.]