Tampilkan postingan dengan label Wattpad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wattpad. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2018

Secret !


Summary: 

Tentang Rina Maharani.
Ketua kelas yang cuek tapi penyayang. Manis di depan guru, tapi galak sama teman sekelasnya. Diam-diam Rina naksir sama ketua kelas di kelas sebelahnya, Aldi namanya. Anaknya ganteng, suka menolong dan rajin ibadah.
Rina sudah kelas 3 SMA. Kalau ditanya cita-citanya? Rina bakal jawab jadi Astronot dengan ngawurnya.
Suatu ketika, ada rumor yang beredar kalau Aldi itu suka merokok dan pasang tatto. Rini nggak percaya . Sejak saat itu, Rina mulai menemukan tujuan hidupnya yang baru.
Menemukan Rahasia Terbesar Aldi. Titik.

Haidar

Story written by Karizzta
Part 1-Haidar

Orang bilang.. masa SMA adalah masa-masa yang indah. Masa dimana kamu akan menjadi dewasa. Masa dimana kamu tidak akan pernah lupa. Karena itulah aku berharap aku akan mempunyai harapan baru dan tidak akan pernah lupa. Karena itulah yang kupikirkan ketika aku menginjakkan kaki ke sekolah ini. Tapi harapan itu sirna seketika.

BYUUR!

Saat sebuah air jatuh membasahi tubuhku ketika aku sedang berjalan di tepian koridor sekolah menuju kelasku. Aku dengan segera menengok ke atas. Tepat dilantai tiga itu aku melihat siluet dua orang yang dengan cepat berbalik menyembunyikan tubuh mereka.

Masih pagi. Dan aku sudah diberi hadiah oleh orang yang tak kuketahui. Oh mungkin saja aku tahu! pastinya kalau saja bisa melihat wajah mereka.

Aku melihat tubuhku yang basah kuyub. Semuanya basah. Dari rambutku yang kukuncir satu, airnya menetes pelan turun dari atas kepala, melewati pipi dan dagu kemudian jatuh ke bahu. Aku bertanya-tanya berapa banyak air di ember yang mereka guyur ke badanku.

Aku melihat badanku yang basah. Untung saja aku memakai kaos pendek berwarna hitam sebagai baju dalaman, kalau tidak aku pikir aku bakal malu setengah hidup.
Bel kemudian berbunyi. Tanda masuk sekolah. Benar ini masih pagi dan aku sudah mandi dua kali. Tiba-tiba saja aku mendapat ide. Aku masih punya baju olahraga di lokerku.

Aku menuju tempat loker. Tempatnya agak terpisah dari kelas. Aku melihat koridor yang telah sepi. Murid-murid telah memasuki kelas. Dan aku sekarang tersadar kalau aku mungkin harus membolos jam pelajaran pertama.

Ku buka lokerku pelan-pelan. Dan betapa kagetnya ketika aku melihat beberapa kecoa berurutan turun dengan langkah hati-hati agar tidak terpeleset dari loker yang berbahan dasar besi. Oh Tuhan.. lebih kaget lagi ketika aku mencoba melihat ke dalam loker dimana disitu terdapat baju olahragaku yang telah terdapat beberapa butir telur atau feses dari sang kecoa yang sepertinya telah menginap dengan damai semalaman di lokerku yang nyaman.

Sudah cukup! Kataku dalam hati.
Aku membanting pintu loker tanpa menguncinya kembali. Namun setelah beberapa langkah berjalan, kemudian aku sadar, bagaimana jika ada yang menaruh kecoa lagi atau mungkin hewan yang lebih mengerikan dari kecoa.

Kemudian aku berbalik untuk mengunci lokerku kembali. Kali ini aku benar-benar mempunyai ide.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat ke arah ruang BK. Masa bodoh dengan aku yang belum pernah melangkah masuk ruangan itu. Atau masa bodoh dengan rumor yang mengatakan ruang BK itu menyeramkan.

Tok. Tok. Tok.
Aku mengetuk pintu ruangan BK. Ruangnya dekat dengan ruang guru. Hanya saja ruang BK hampir seperti ruang kepala sekolah yang di dalamnya terdapat sekat-sekat dan pintunya di dalamnya di lapisi kaca.

Sebelum pintu terbuka, aku menyempatkan diri untuk membuka tas selempangku. Berharap di dalamnya masih ada beberapa buku yang dapat selamat. Saat aku akan menarik resleting tasku untuk membukanya tiba-tiba pintu terbuka. 

Ditengah-tengah pintu itu ada guru BK yang terkenal seantero sekolah. Itu Pak Bambang, guru BK berkumis panjang yang katanya garang. Kenapa aku tahu? Karena saat masa MOS sekolah, dia selalu nangkring di depan gerbang. Mampus! Kenapa dari semua guru, harus dia yang jaga pada hari ini? Oh My God.

"Maaf pak, tidak jadi." Aku berkata saat Pak Bambang dengan matanya yang tajam melihatku. Baru saja aku akan berbalik pergi dari hadapannya. Pak Bambang memanggilku.
"Eh tunggu dulu? Kamu kenapa basah begitu?"
Aku berbalik dan tersenyum manis. Senyum manis memelas. Belum aku mengeluarkan kata-kata, Bapak berkumis itu telah menyelanya terlebih dahulu.
"Nama kamu siapa?"
"Rere pak."
"Sini kamu," Katanya menyuruhku masuk ke dalam ruangan.
[.]

Hal pertama yang aku sadari adalah aku berada di dalam situasi yang tidak menguntungkan. Aku tidak tahu mengapa aku dapat berada dalam situasi yang awkward seperti ini. Setelah disuruh masuk ke ruang BK oleh Pak Bambang. Dia tidaklah langsung menanyaiku. Dia malah pergi dan sekarang aku hanya berdua bersama dengan cowok yang tidak kukenal. Duduk berdua di sofa melingkar yang disediakan di ruang ini. Tidak peduli sofa itu basah. Mimpi apa aku tadi semalam? Aku mencoba mengingat-ingat.

"Ck."
Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara aneh. Kupikir tadinya suara cicak. Namun ternyata suara itu dibuat oleh makhluk yang berada di depanku.
Aku melirik ke arahnya. Dan dia langsung menatapku tajam.  Tatapannya lebih tajam dari Pak Bambang. Tatapannya seolah-olah mengatakan apa lihat-lihat. Itu yang terbaca dariku. Tapi anehnya, aku penasaran dengannya. Tidak pernah aku merasa sepenasaran ini dengan seseorang.
Cowok itu mengenakan jaket. Baju seragam sekolahnya dikeluarkan dan dia tidak mengenakan dasi. Rambutnya berwarna pirang. Tunggu dulu, apa itu benar-benar pirang? Aku mengedip-ngedipkan mataku. Atau karena ruangan ini yang agak gelap, mataku menjadi rabun?

"Apa?" Tanyanya.
"Itu." Aku menunjuk kepalanya dengan tanganku. "Apa itu berwarna pirang?" Lanjutku yang tanpa kusadari telah bertanya.

Dia memegang sebelah kepalanya, kemudian menjawab dengan ketus. " Bukan urusan lo."
Aku merengut. Dan aku tidak mengerti mengapa aku harus merasa kesal karena aku tidak mendapat jawaban atas pertanyaanku. Aku ingin mendapat jawaban atas alasan mengapa dia harus mewarnai rambutnya.

Untunglah Pak Bambang kembali masuk sehingga rasa kesalku hilang. Tapi sekarang berganti dengan rasa was-was. Apa aku bakal di skors? Atau  bakal disuruh membersihkan toilet yang baunya minta ampun itu? Aku menggeleng pelan.
"Kamu kenapa?" Tanya Pak Bambang.
"Eh, gak papa pak." Aku menjawab dengan pelan.
"Katanya bosen ngeliat wajah bapak." Satu suara yang tak enak didengar keluar dari bibir cowok itu. Sontak aku melihat ke arahnya.

Aku menggeleng. Kemudian mendelik pada cowok itu. Dari bibirnya, dapat kulihat kalau dia menahan senyum. Ragu-ragu, ku alihkan pandanganku pada Pak Bambang yang ternyata sedang berjalan melangkah mendekati cowok itu.

TAK! Suara kepala dijitak dengan keras disertai keluhan."Aduh."
Dan aku ingin tertawa melihat cowok itu yang menahan sakit. Tapi aku hanya menahannya.
"Saya yang sudah bosan melihat wajah bandelmu itu!" Kata Pak Bambang pada cowok itu.
"Lepas jaket kamu." Perintah pak Bambang pada cowok itu.
Tanpa bertanya cowok itu melepas jaketnya. Kemudian memberikannya pada Pak Bambang yang berdiri tepat di sampingnya.

"Berikan pada dia." Tunjuk Pak Bambang kepadaku.
Aku terkejut dan cowok itu juga sepertinya kaget tapi kemudian dengan cepat memperbaiki mimik wajahnya. Dia melemparkan jaketnya sembarangan sehingga mengenai wajahku.
Pak Bambang hanya menggeleng melihat kelakuan anak muridnya yang satu itu. 
"Tadi Saya cari handuk, ternyata tidak ada. Baru ingat kamu punya jaket. Good job." Kata Pak Bambang.

Ternyata Pak Bambang baik juga, Pikirku dalam hati. Rumor yang beredar bahwa pak Bambang itu galak ternyata salah.

Aku dengan cepat memakai jaket berwarna hitam itu, tidak lupa meresletingnya. Aku melirik dari balik mataku pada cowok itu yang ternyata sedang melihatku. Wajahnya terlihat tidak ikhlas.
"Oh ya, kamu boleh pergi. Besok itu rambut sudah harus warna hitam atau bapak cukur botak." Pak Bambang berkata pada cowok itu.
“Iya-iya,” jawab cowok itu dengan malas-malasan. Pak Bambang cuma menggeleng melihat kelakuannya.

Cowok itu kemudian pergi tanpa menengok kembali. Aku melihat punggungnya yang berlalu pergi.
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di dalam kepalaku.
"Pak, boleh saya tanya? Anak yang keluar tadi namanya siapa ya?" Tanyaku pada Pak Bambang.
"Kamu nggak kenal dia?" Tanya balik Pak Bambang yang sekarang bahasanya lebih sedikit informal.
"Ternyata ada juga yang nggak kenal dia," ucap Pak Bambang tersenyun tipis. Dia berjalan menuju mejanya kemudian merapikan buku-bukunya. "Namanya Haidar, kelas 2 IPA 1. Kenapa?"

"Ma-mau ngembaliin jaket ini nanti Pak." Kataku cepat sambil mengangkat sedikit jaket yang berada di dekapanku.
"Oh ya, tadi nama kamu siapa? Dari kelas apa? Kenapa bisa basah kuyub begitu?" Tanya Pak Bambang bertubi-tubi dengan tatapan mengintimidasi. Sekarang dia sudah duduk di hadapanku dengan siap siaga menginterogasiku.

Aku meneguk ludah. Berharap selamat kali ini. Aku tarik kata-kataku mengenai pak Bambang yang ngga galak. Rumor yang beredar itu benar.
[.]

Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Ternyata aku sudah menghabiskan banyak waktu dengan panjang lebar cerita sama pak Bambang mengenai masalahku. Tahu jawaban apa yang kudapat setelah aku menceritakan semuanya.

“Kamu serius?
“Dua rius pak. Bapak kira aku bohong gitu?”
“Bukannya begitu Rene.”
“Rere pak.”

“Bapak nggak bisa percaya sama kamu begitu aja kalau belum ngelihat langsung.” Pak Bambang berkata  dengan nada lebih lembut dan informal denganku. Ssepertinya dia sudah akrab denganku.
Aku cuma diam, berkedip sekali, menatap lama mata pak Bambang. Lalu menghela nafas. Rasanya ingin mencukur habis seluruh kumisnya.

“Begini... Pokoknya hari ini sekarang kamu bapak izinin pulang dulu. Besok-besok bawa dua baju barangkali ada yang iseng lagi sama kamu.”

Parah ini Bapak! Aku sudah ngomong jujur tapi nyatanya ngga bisa percaya sama aku. Dimana keadilan di dalam ruang BK ini? Apa aku juga harus nyuap pak Bambang pakai martabak biar mihak aku? kayak satpam depan kompleks rumah biar bukain portal kalau aku pulang kemalaman?
Sebelum aku pergi dari ruangan ini.
[.]

Rabu, 17 Oktober 2018

Hold Into Me


Hold Into Me
.
.
Blurb :
“Love is not adaptabel, but it is adeshif.”
“So won’t you hold into me?”
Rere terdiam.  Ia bimbang. Antara percaya tidak percaya. Tapi dapat dipastikan 95% tidak percaya. Kalimat itu keluar dari bibir Haidar! Sekali lagi, dia Haidar! Cowok jutek yang suka duduk di pojok kelas bahkan terkadang keberadaannya tak terasa. Lalu bagaimana dengan Arka, cowok keren, cinta pertamanya?
[.]

Prolog
Tok. Tok.Tok. Suara pintu terketuk membuat bising di dalam rumah. Aku bangun dari tempat tidurku. Mendudukkan diri dengan kaki yang menapak pada lantai. Mencoba mengumpulkan kesadaranku setelah tidur siang. Aku menguap pelan, rasa berat masih terasa pada bola mataku. Aku menyipitkan mataku untuk  melihat jam dinding. Jarum kecil itu tepat berada pada angka enam, sedang jarum panjangnya berada di angka dua belas.

Ketukan itu terasa semakin keras. Hampir-hampir membuat gema di dalam rumah. Aku menuruni tangga karena kamarku berada di lantai dua. Aku berjaan lamat-lamat, perbuatan yang kusengaja.  Tak peduli nantinya, seseorang yang mengetuk pintu dari luar itu akan merasa marah atau kesal terhadapnya. Ingin rasanya, nanti kuberikan penjelasan kepada orang itu mengenai adab bertamu.
Aku berjalan menuju pintu depan rumah. Aku mengernyitkan dahi, berfikir tentang siapa orang yang datang. Pagar rumah yang terbuat dari besi sepertinya telah kukunci, lalu bagaimana orang ini dapat masuk, pikirku dalam hati. Ketukan pintu berhenti dan aku membuka pintu dengan memutar kuncinya. Dengan terkejut, aku menghindarkan diri dari kepalan tangan yang hampir mengenaiku jikalau aku tidak waspada. Orang ini benar-benar tidak sabaran.

Aku memandangnya dari atas ke bawah. Dia laki-laki. Tingginya melebihi diriku. Dia mengenakan setelan jas dan bertopi hitam. Saat mataku bertemu dengan matanya, aku tersadar. Aku mengenalnya dengan jelas. Aku tersenyum dan dia membalas dengan delikan tajam. Aku meneguk ludah. Kupikir orang dihadapanku telah marah padaku sehingga aku menyiapkan wajah memelasku sebisa mungkin.

“Sorry, ” ucapku sambil menyengir lebar. Baru kuucapkan satu kata dan dia telah mendekapku dengan erat.
“Aku rindu kamu,” bisiknya pelan. Nafasnya yang hangat menyapu leherku. Dia menyandarkan kepalanya pada bahuku, memelukku erat menggunakan kedua lengannya. Seolah-olah tak ingin melepaskan. 

Aku membalasnya dengan melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya, menyelipkan tangan diantara jas yang dipakainya. Merasakan hangat  dan aroma familiar yang kuketahui beberapa tahun ini. Kemudian setelah beberapa detik, aku melepasnya dan dia merengut.
Aku tak sempat terkikik geli akan tingkahnya karena setelahnya dia telah melenggang pergi menaiki tangga menuju kamarku. Aku menggelengkan kepala pelan melihat perilakunya. Dia telah benar-benar menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri. Aku menutup pintu dan menguncinya kembali.

Setelah berada dikamarku, dia merebahkan dirinya di kasur dengan bantal sebagai landasan kepalanya. Topi dan jasnya telah dia sampirkan di meja belajarku.Kulangkahkan kakiku pelan dan  duduk pada satu-satunya kursi yang ada di dalam kamar. Kursi yang  sepasang dengan meja belajar. Meja belajar itu berada di sebelah kanan setelah kamarku.

“Kamu sebaiknya tidak tidur disini,” ucapku  padanya melihat dia yang baru saja menutup mata. Aku mendengar dia mendesah. Kemudian membuka matanya kembali untuk memandangku yang berada di sisi kanannya.
“Kamu itu suka sekali merusak mimpi indahku,” katanya pura-pura merajuk. Tapi aku mengetahui kalau dia tidak benar-benar marah padaku.
“well, I’m sorry sir, but this is not Hotel. This is my room.” Aku mengucapkannya dengan nada seperti resepsionis kepada pelanggan yang belum membayar.
“Nanti juga akan menjadi kamarku.” balasnya dengan nada bangga atau mungkin bahagia. Ada binar di matanya.

Aku menggeleng pelan, “tergantung,” ucapku. Baru saja aku ingin berdiri, dia menarik sebelah tanganku membuatku berada di depan wajahnya. Dia masih tidur terlentang, sedang tangan kanannya dia gunakan untuk menggenggam tangan kiriku, membuatku berada dekat dengan wajahnya. Oh, sial. Sepertinya aku telah membuatnya benar-benar kesal.



 


Hold My Hand


Hold My Hand
.
.
.
Kenangan baik akan selalu diawali dengan pertemuan baik. Pertemuan-pertemuan yang menyenangkan itu akan membentuk serangkaian peristiwa. Peristiwa itu yang kemudian akan membekas, membuatnya menjadi segenggam kenangan. Dan kenangan itulah yang akan berdiam diri disudut organ bernama otak. Entah itu kenangan baik ataupun buruk, keduanya berebut untuk memiliki tempat. Kenangan yang paling banyak menumpuk itulah yang akan menuntunku membentuk kepribadian. Pribadi itulah yang sekarang sedang aku cari. Orang-orang menyebutnya jati diri. Aku berharap akan menemukannya sesegera mungkin. Atau seperti itulah harapanku beberapa menit yang lalu.

Sesaat sebelum aku menutup buku tulisku yang penuh dengan kalimat harapanku. Sebelum teriakan ayahku yang menyuruhku untuk turun menemuinya di lantai pertama karena kamarku berada di lantai dua.

Aku menuruni anak tangga satu per satu. Teriakan ayah biasanya adalah pertanda. Pertanda hal penting akan terjadi. Entah itu baik atau buruk untukku. Aku hanya dapat menduga-duga. Aku berharap akan ada hal  baik yang datang. Namun seperti biasanya dugaanku benar-benar melenceng jauh dari kenyataan.

Saat ayah memberiku tatapan matanya yang dalam juga memelas. Ketika dia mulai menarik napas dan membuka mulutnya perlahan. Aku hanya mampu terpaku melihat bola matanya. Ketika ayah mengatakan kalimatnya, aku hanya mengangguk.  Mataku mengikuti langkah kaki ayah yang menjauh keluar dari rumah. Setelahnya aku berkedip dan otakku baru menyampaikan pesan yang diterimanya. Aku kemudian tersadar dari keterpakuan. Aku menghembuskan nafas panjang dan melangkah menaiki tangga dengan lemas sampai ketika aku menemukan kamarku yang kusayangi. Aku membukanya dan menutup pintu itu dengan keras.

Aku membaringkan diri di kasurku dengan posisi terlentang. Menatap langit-langit putih kamar yang sejak aku kecil warnanya selalu sama.

“Kita akan pindah, Rere. Ayah minta, kamu kemasi barang-barangmu mulai sekarang.” Kalimat yang dilontarkan ayah masih mendengung di kepalaku. Kalimat itu seolah diputar beberapa kali seperti kaset yang rusak. Pindah, pindah, dan pindah. Hanya satu kata yang teringat dengan jelas dalam kepalaku.

Aku kemudian berguling menghadap kanan. Ku lihat boneka burung hantuku yang terpajang manis. Ku tatap boneka itu. Matanya seolah bertanya, apa kau akan membuangku nantinya? Tentu saja tidak, jawabku dalam hati kemudian mulai menariknya ke dalam pelukanku. Boneka ini adalah salah satu benda kesayanganku. Aku kemudian melirik laci kecil di samping tempat tidurku itu. Di atasnya terdapat buku tulisku yang penanya masih bertengger dengan manis. Kuambil buku itu, membukanya dan kemudian mulai membacanya perlahan. Kemudian dengan pena, ku coret semua tulisan tentang harapan masa depan yang telah kurencanakan.

Kutulis dengan rangkaian kata yang baru, selamat tinggal dan selamat datang perjalananku yang baru.

Terrarium