Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oneshoot. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2018

Rain Drop


Rain Drop
.
.
Di hari ini ketika hujan turun, aku melangkah keluar rumah. Di jalan yang biasa kulewati, aku melihat sosokmu dari belakang. Hanya berbekal punggung dan suraimu yang panjang, aku bisa tahu itu kamu.  Aku sengaja tak memanggilmu agar aku dapat mengikutimu tanpa kamu ketahui. Kakimu yang kecil, melangkah anggun pada jalan setapak yang jarang dilalui. Aku menebak-nebak kemana arah tujuanmu. Kamu yang enggan mencari tempat untuk meneduhkan diri. Kamu yang tak peduli kakimu kotor berbalut tanah yang basah.

Ketika lensaku berhadapan dengan pemandangan yang tak lagi asing. Aku berhenti melangkah. Seketika aku tahu kemana arah tujuanmu saat ini. Tanpa sadar, aku mengeratkan tangan pada payung yang kugenggam. Kamu yang berdiri di depan sana, tepat di depan sebuah batu nisan dengan nama yang tertera dengan jelas.

Aku enggan berdiam diri. Kuberanikan diri berjalan lebih dekat padamu agar kamu tahu aku ada disini. Di tempat yang sama denganmu agar kamu tak perlu merasa sendiri. Tapi kemudian langkah kakiku tertahan. Pada saat itu aku dapat melihat wajahmu dari samping. Meski aku berada beberapa meter jauh darimu. Aku dapat melihat kamu yang berdiam diri disana. Saat kulihat raut wajah sendu yang kentara tertera. Saat kamu yang berdiam diri menatap lama pada batu nisan itu. Saat kamu meletakkan sebuah buket bunga di atasnya.  Hatiku merasa hampa.

Angin yang tiba-tiba bertiup kencang, membuat payung berwarna transparan yang kamu genggam jatuh. Payung yang terlepas dari tanganmu itu ikut terbawa angin. Namun, kamu masih berdiri disana, tak memperdulikannya. Sosokmu yang berdiri tegak tanpa takut tubuhmu basah terkena tetesan air hujan. 

Aku yang ingin melangkah maju hanya dapat terdiam terpaku di tempat saat kamu mulai menutup mata di tempat itu. Dadaku mulai terasa sesak tatkala melihat wajahmu yang mendongak ke atas dengan lensa matamu yang terpejam seolah-olah menantang air hujan untuk jatuh membasahi setiap jengkal kulitmu.
Tetapi kamu sama sekali tak tergoyahkan. Kamu yang berdiam diri disana, seolah-olah ragamu tetap berada disitu tapi jiwamu terhisap ke dunia lain. Kamu dengan pikiranmu yang tak dapat kutebak membuatku khawatir. Khawatir akan ada tetesan air yang lain yang membasahi wajahmu. Tapi aku tahu kamu pandai menyembunyikannya. Kamu memilih waktu yang tepat. Tepat hari ini di saat langit menangis.

Hujan yang turun semakin lebat, membuatku khawatir kamu akan menggigil jika semakin lama berdiri disana tanpa meneduhkan diri. Kuberanikan diri melangkah maju, tepat berdiri bersisian denganmu. Payung berwarna kuning yang kupegang dengan tangan kanan, sebagian besar kuhadapkan padamu membuat hujan berhenti membasahi tubuhmu. Tanpa peduli sisi tubuhku yang lain mulai terkena basah karenanya.

Kamu yang tahu bahwa hujan tak lagi mengenai tubuhmu membuatmu curiga. Merasa ada yang aneh, kamu membuka mata. Ketika kamu mulai mengalihkan pandanganmu padaku, nafasku tercekat. Dengan wajah sedekat ini, kamu dengan pandanganmu yang kosong tanpa berkata apa-apa adalah senjata paling mematikan bagiku.

Kamu yang biasanya memanggilku dengan merdu. Kamu yang biasa tersenyum lembut. Kini ekspresi itu seolah hilang entah kemana. Kamu yang berbalik menatap batu nisan itu membuatku turut mengikuti pandanganmu. Aku yang tahu dengan jelas siapa nama orang yang tertera disana membuatku teringat sesuatu. Hari ini adalah tanggal kematiannya. Bagaimana dirinya bisa lupa. Orang ini adalah salah satu orang berharga bagi dirinya dan gadis yang berdiri di sampingnya ini.

Aku melirik dari sudut mataku, air hujan yang membasahimu wajahmu menetes satu persatu turun melalui dagu dan jatuh ke bawah. Tapi aku merasa ada yang aneh padamu. Saat aku menyadarinya, aku mengumpat dalam hati. Kamu menangis dalam diam tepat seperti yang aku khawatirkan sedari tadi.

Aku yang tak tahan mulai memelukmu dengan sebelah tanganku yang lainnya. Memelukmu tanpa peduli kamu menyukainya atau tidak. Memelukmu dengan erat. Aku hanya ingin kamu berhenti menangis sendirian. Kamu harus tahu kalau aku bersedia berdiri di sampingmu. Menemanimu di kala sedih seperti ini. Aku ingin kamu membagi kesedihanmu padamu. Apa itu begitu sulit kamu lakukan?
Kamu selalu menahannya sendirian. Seperti orang itu yang menjadi bagian penting dari hidupmu. Aku juga ingin menjadi bagian paling penting bagi hidupmu. Meski tahu aku lambat dalam menyadari perasaanmu padaku, kamu harus tahu kalau kamu bukanlah pengganti. Juga bukan karena aku merasa bertanggung jawab atas kematian orang itu. Bukan hanya sekedar empati. Ini lebih dari itu.

Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali. Karena aku menginginkan kamu menggenggam tanganku erat tanpa berniat melepaskannya lagi. Kemudian aku tersenyum kecil saat kamu yang berada dipelukanku ini mulai memelukku balik. Kedua tanganmu yang dingin mulai melingkar di pinggangku.

"Ayo pulang, Hinata." Aku berbisik lirih di telinganya. Saat dia mengangguk dalam pelukanku, aku tersenyum.  Kusampirkan jaketku padanya dan membawanya pergi melalui jalan yang tadi kulalui.

Aku mungkin makhluk egois karena aku bisa-bisanya bahagia di tempat seperti ini. Tapi melihatmu yang mau kembali padaku meski hanya diisyaratkanmu melalui tindakan membuatku merasa senang. Cuma kamu yang mampu menjungkir balikkan hatiku. Cuma kamu yang dapat menjatuhkanku sedalam-dalamnya kemudian membuatku terbang melayang tinggi. Cuma kamu yang dapat membuat hatiku yang beku dan kembali melelehkannya.

Aku jadi ingat saat Sai, temanku yang satu itu bertanya sesuatu padaku.
 "Naruto, kenapa kamu memilih Hinata?" tanyanya penasaran. Aku terdiam sejenak.

 "Bukannya berniat menyinggungmu, tapi aku hanya penasaran." Sai mencoba menjelaskan. Aku tahu. Aku melihatnya yang merasa tidak nyaman saat bertanya mengenai hal ini, tapi aku heran rasa penasarannya yang lebih tinggi membuatnya melontarkan kalimatnya.Aku menarik nafas panjang, mencoba mencari cara yang tepat untuk menjelaskan padanya.

"Kamu tahu?" Ujarku padanya. Sai benar-benar menatap wajahku dengan serius kali ini.

"Aku hanya merasa bahwa dia tidak akan pernah kembali padaku.. jika saja aku melepas genggaman tangannya." Tatapanku menerawang jauh ke langit, mengingat saat dimana gadisnya itu pergi menjauh. Aku melihat dari sudut mataku, Sai masih memperhatikanku dengan seksama.

"Saat aku tahu dia pergi jauh dariku, hatiku menjadi aneh. Seperti kotak yang harusnya terisi menjadi kosong. Aku tidak dapat berpikir panjang."  Tatapanku berubah sendu, aku melihat tangan kananku yang berada di depanku. Ku genggam jari-jariku erat dan membukanya kembali dengan perlahan.

"Aku bahkan kehilangan sebagian.. Ehm, tidak—"  
Aku menggeleng dan meneruskannya kalimatku, "—hampir seluruh semangat yang ada."
"Padahal, kamu tahu kan aku bukan tipe yang mudah menyerah? Tapi anehnya hanya dia yang dapat membuatku seperti ini. Cinta yang aneh bukan?"

"Maksudmu, seperti hanya dia satu-satunya orang dalam hidupmu yang membuatmu seperti itu? Tidak ada yang lain?"

"Benar...Ah, kau pintar sekali Sai." Aku  menepuk punggungnya  kemudian melangkah pergi. Biarkan dia berpikir, Sai akan tahu dengan sendirinya ketika suatu hari dia jatuh hati. Satu-satunya yah, pikirku dalam hati. Lalu aku tersenyum kecil. Lebih tepatnya, aku menemukan tempat ternyaman yang ingin aku tuju.

Ketika hujan berhenti, aku yakin dapat kembali melihat senyumannya.
.
.
.
The End.

AN: Tentang Hinata yang mengunjungi makamnya Neji dan menangis karena teringat olehnya. Cerita ini menggunakan POV Naruto.




The Beginning

Bagi sebagian orang, masa sekolah adalah masa-masa yang menyenangkan. Penuh persaingan, persahabatan dan juga cinta. Ngomong-ngomong soal cinta, hal itu juga berlaku  bagi seorang Hyuuga Hinata. Gadis pendiam dan pemalu berambut panjang ini dan ia sedang bingung dengan nasib kisah cintanya yang bahkan belum ia mulai.
Seorang gadis berambut panjang bermata amethyst berdiri di sebuah jembatan panjang yang dibawahnya terdapat sungai. Hinata Hyuuga, nama gadis itu, melihat ke arah bawah dengan sedikit ngeri, pasalnya sungai yang berada dibawahnya terlihat deras, seolah mampu menenggelamkan apapun yang terjatuh ke dalamnya atau mungkin faktor hujan yang turun semalam. Tapi tak apa, ia tidak sedang mencoba bunuh diri sekarang.
Hari ini cerah, tapi tak secerah perasaanya sekarang. Hinata, gadis itu,  berdiri seorang diri sambil menyandarkan tubuh bagian depannya di jembatan. Kedua tangannya melewati pagar jembatan yang digunakan sebagai pembatas sambil menggumamkan sesuatu.
“Buang.”
“Tidak.”
“Buang.”
“Tidak. “
“Buang… Tidak.” Ujarnya pelan dengan menggenggam sebuah benda, sebuah kotak.
Hinata memandang kotak persegi di depannya dengan resah. Kotak berwarna biru tua dengan pita senada yang melingkar membungnyasnya rapi. Berkali-kali dirinya mencoba bergelut dengan pikirannya. Sebagian besar logika Hinata menyuruhnya untuk membuangnya, sebagian kecil hati nuraninya menolak.
Besok hari libur. Hinata baru pulang sekolah dan menyempatkan diri kemari. Hinata berdiri di sebuah jembatan yang sepi, tepat di bawahnya sebuah sungai yang bagusnya tidak lagi jernih, mengalir dengan arus pelan.
“Buang saja deh.”
Berharap dengan membuang sebuah kotak ini, Hinata bisa melupakan semua harapannya yang hanya dapat ia pendam dari dulu. Memejamkan matanya, Hinata merasakan angin bertiup, membuat seragam sekolah dan rambut panjangnya berkibar pelan. Hinata menarik nafas dalam, nya coba untuk berfikir bahwa Hinata tidak akan menyesali keputusan ini walaupun dari dalam hatinya Hinata  tahu Hinata akan menyesali perbuatannya setelah ini.
Nyabuka matHinata perlahan, dan memantapkan niat, nyacoba mendekatkan diri lebih dekat dengan pagar jembatan berbahan besi yang diukir sedemikian rupa. Nyalihat air sungai mengalir, cunyap dalam untuk membuat seseorang sepertinya tak kelihatan, jika saja Hinata mencoba menenggelamkan diri.
Tarik nafas dan menghembuskannya kasar, nya coba memandang lagi, air yang mengalir di sungai. Tepat ketika Hinata akan membuangnya, seseorang berteriak memanggilnya, membuatnya kaget dan tanpa sadar melepaskan sebelah tangannya yang menggenggam kotak. Membuat benda itu hampir terlepas dan jatuh. Jantungnya berdegup kencang, hampir saja pikirnya dalam hati. Untuk sekejap Hinata berpikir bahwa Hinata tidak rela melepas semua ini. Namun nya tepis jauh-jauh pikirannya. Hinata rela, sungguh. Hanya saja, Hinata tidak rela jika caranya seperti ini, dikagetkan.
Suara itu memanggilnya lagi, kali ini cunyap keras, “HINATAAA.” Teriak suara itu, yang nyatahu dari jenis suaranya adalah seorang pemuda.
Nya palingkan wajahnya ke arah sumber suara, dan yang nya dapat adalah seorang pemuda berambut pirang jabrik, bermata biru yang terlihat habis berlari, tepat berada di depannya.
Napasnya yang pendek-pendek terdengar begitu jelas sebab jaraknya yang begitu dekat dengannya. Ketika dia berhasil mengatur napasnya dia bertanya, “Apa yang kau lHinatakan?” tanyanya masih dengan suara yang keras, yang dapat membuatnya menutup telinga jika saja Hinata tidak dalam kondisi terkejut.
Hinata mengerjap-ngerjapkan matHinata. Ketika beberapa detik, Hinata berpikir, seharusnya Hinata yang bertanya seperti itu, apa yang dilHinatakan pemuda itu disini? Pikirnya dalam hati.
Dia yang tak nyanjung mendapat jawaban akhirnya bertanya lagi, “ Apa yang kau pikirkan, Hinata? Kau tidak harus melHinatakan ini.”
Masih dalam mode bingung, Hinata bertanya pada pemuda di depannya ini, “MelHinatakan apa?”
“Bunuh diri.” Ucapnya ragu tapi terdengar jelas di telingHinata.
Krik. Krik. Krik. Untuk sekejap hening di antara kami. Setelah beberapa detik, Hinata sadar kami salah paham, atau hanya pemuda di depannya ini yang salah paham.
“Hinata tidak… maksudnya, siapa yang mau bunuh diri?” ujarnya agak kesal, melupakan fakta bahwa sebenarnya Hinata pemalu.
“Kau tidak..?” Mata birunya memandangnya aneh, tapi ada rasa lega di wajahnya. Setelah mengerti apa maksudnya, ia bertanya lagi, “Lalu kenapa kau ada disini?”
Hinata menghela nafasnya lelah. Bukan sifatnya sebenarnya menunjukkan hal itu di depan orang, hanya saja untuk sekejap Hinata merasa kesal padanya. Memangnya orang yang berdiri di jembatan dan melihat sungai ke bawah selalu identik dengan bunuh diri ya, pikirnya.
Hinata melihat pemuda di depannya ini dari atas ke bawah. Ia sama dengannya, masih mengenakan seragam sekolah dengan tas yang ia sampirkan di bahunya. Nya alihkan pandangannya darinya, memilh menatap lurus ke depan sungai. Kedua tangannya masih menggengam kotak persegi. Tampaknya pemuda itu juga tertarik dengan benda yang nya pegang namun enggan bertanya. Hinata tersenyum tipis, mencoba sebuah ide yang tiba-tiba saja muncul.
Entah darimana Hinata mendapat keberanian. Memandangnya lagi dan mencoba berwajah serius, Hinata bertanya, “Kau mengkhawatirkannya ya?”
“Eh, apa?” Entah ini hanya firasatnya, tapi tampaknya dia gugup.
Memalingkan wajah lagi ke posisinya tadi, memandang lurus ke depan sungai, Hinata menunduk pelan, dan berkata dengan nada lirih, “Sebenarnya tadi, sempat terlintas di pikirannya soal bunuh diri.”
Hinata tidak bohong soal hal ini, terkadang di waktu-waktu terberatnya ketika Hinata putus asa, Hinata berfikiran untuk bunuh diri, tapi Hinata sadar, hal itu tidak akan membuatnya terlepas dari semua beban dan hanya akan membuat sedih orang-orang terdekatnya.
 “Kalau tadi nya lHinatakan, paling-paling besok kau akan di wawancarai beberapa polisi dan wartawan.” Lanjutnya lagi. Dia bergidik ngeri, sepertinya membayangkan hal yang aneh-aneh.
Mellihat ekspresinya yang aneh, Hinata tertawa pelan. Seolah sadar, Hinata mengerjainya, dia berkata, “Kau ini benar-benar.” Ucapnya dibuat-buat seolah marah kepadHinata. Dia menampilkan ekspresi cemberut, dan baginya itu lucu.
“Berhenti tertawa, apanya yang lucu?” ujarnya, dengan nada kesal, yang Hinata tahu itu cuma pura-pura.
“Tidak ada.” Hinata menggeleng tapi tetap terkikik pelan. Nya lihat dia juga inyat tersenyum.
“Ayo kesana.” Jarinya menunjuk pada sebuah bangnya di pinggir sungai. Yah sebenarnya jembatan dan nyarsi-nyarsi yang tersedia ini masih dalam kawasan taman kota, walaupun letaknya di pinggir kota. Sehingga tampak sepi. Beberapa pohon besar nan rindang tampak menghiasi ujung jalan jembatan.
Entah sadar atau tidak tapi ia menggenggam tangan kanannya, dan menuntunnya berjalan pelan. Untuk pertama kalinya, ada seorang pemuda selain dari keluargHinata yang memegang tangannya. Hatinya bergetar, rasanya aneh tapi menyenangkan, genggamannya hangat dan Hinata tidak ingin melepasnya.
Tapi memang beginilah hidup, semua harapan tak selalu terkabul. Dia melepasnya saat kami sudah duduk. Kami duduk di bangnya panjang menghadap sungai. Hinata berada di sebelah kanannya. Untuk pertama kalinya juga, Hinata tidak merasa gugup saat berbicara dengan seorang pemuda dalam jarak sedekat ini. Entahlah suasananya mendunyang dan membuatnya nyaman.
Untuk beberapa saat, Hinata dan Naruto, nama pemuda itu, hanya duduk diam, saling melirik menggunakan ujung mata. Hinata sendiri bingung mau memulai pembicaraan seperti apa. Mengingat walau satu sekolah, Hinata hampir tidak pernah terlihat bercakap-cakap dengannya. Setelah cunyap lama,  akhirnya pemuda itu memecah keheningan dengan bertanya, “Mau cerita apa masalahmu?”
“Masalah apa?” Jawabnya pelan, seolah merasa tidak ada yang harus diceritakan. Sebenarnya Hinata hanya enggan menceritakan masalahnya kepada orang lain. Apalagi soal yang satu ini.
“Jika itu tentang ujian sekolah. Tidak perlu dipikirkan. Satu atau dua mata pelajaran nilaimu turun itu tidak akan masalah, berbeda dengannya.” Ujar Naruto dengan suara yang lebih lirih dari sebelumnya.
Benar, untuk sesaat Hinata melupakan fakta bahwa dia satu kelas dengannya. Kami kelas tiga Senior High School dan sebentar lagi akan lulus.  Dalam hati Hinata berkata, Hinata tidak mempermasalahkan ujian sekolah, dan tunggu, dilihat dari mimik wajahnya, kenapa sekarang dia yang merasa frustasi?
Melihat wajahnya yang seperti itu membuatnya ingin tertawa, tapi Hinata menahannya.
“Apa?” Naruto yang melihatnya sepertinya tahu apa yang Hinata sembunyikan.
Entah kenapa melihatnya lagi, tawHinata lolos begitu saja. Hinata melihat dia masih kesal, jadi Hinata menghentikan tawHinata. Hinata menghela nafas pelan. Berfikir, menimbang-nimbang  mungkin tidak ada salahnya menceritakannya pada Naruto. Kelihatannya dia dapat dipercaya. Memandang lurus ke depan tanpa melihat ke arah Naruto, Hinata berkata dengan lirih, “ Ya. Ada.”
“Apa?” sepertinya Naruto tidak mendengar karena suarHinata terlampau pelan.
“Masalah itu… Hinata juga memilikinya. Tapi kenapa Hinata harus menceritakannya padamu?” Hinata hanya ingin tahu kenapa ia peduli padHinata, berikan Hinata sebuah alasan untuk mempercayainya.
“Entahlah, Hinata… hanya ingin meringankan bebanmu.” Pandangannya intens menatapnya, dan biru di matanya itu membuatnya sulit bernafas hingga Hinata memalingkan wajahnya.
“Supaya kau tidak mencoba bunuh diri lagi, mungkin.” Setelah mengakhiri kalimatnya, Naruto tersenyum lebar.
Hinata mendengar nada jahil di suaranya, jadi Hinata membalas, “Mungkin lain kali, Hinata akan mengajakmu terjun juga.” Hinata tersenyum dan Naruto berhenti tersenyum dan cemberut lagi, mengerucutkan bibirnya lucu.
Setelah beberapa lama, Hinata mencoba memulai percakapan. Darimana ya harus memulainya.
“Naruto.” Panggilnya. Naruto yang mendengar nada serius dari suarHinata memalingkan wajahnya padHinata. “Apakah kau pernah jatuh cinta?” Lanjutnya lagi.
“Eh?” Mata birunya agak melebar, tapi kemudian mampu beradaptasi lagi.
Hinata tidak tahu mengapa ekpresinya terlihat terkejut begitu. Apakah dia tidak menyangka Hinata akan membahas topik ini? Secara Hinata begitu pendiam dan tertutup. Bahkan Hinata jarang berbicara pada teman lelaki di kelas.
 Setahunya bukankah Naruto menyukai sahabatnya, gadis berambut merah jambu senada dengan warna SHinatara, seperti namanya. Mengingat hal itu, membuat hatinya menjadi aneh, tapi Hinata tidak mau memikirkannya. Tapi Naruto hanya diam, seolah berfikir, jadi Hinata melanjutkan ucapannya lagi.
Menghela nafas lagi. Entah ke berapakali pada hari ini Hinata melHinatakannya. Ada mitos yang mengatakan kalau menghela nafas dapat memperpendek umur. Nya pikir bukan menghela nafasnya yang membuat masalah tapi stressnya itu. Kalau kita punya koping yang bagus untuk masalah-masalah di sekitar kita. Tentunya kita akan jarang menghela nafas bukan? Sudahlah, lupakan soal itu.
 “A-Hinata… ada seseorang yang Hinata sukai. Sudah begitu lama, Hinata selalu memperhatikannya dalam diam. Berharap suatu hari ia sadar, Hinata menyukainya. Hinata bodoh ya.” Gagapnya kambuh lagi.
Dengan gugup, Hinata memainkan jari-jarinya di atas pangnyaannya. Tasnya Hinata taruh di pangnyaannya, menutupi seragam sekolah bawahnya yang pendek di atas lutut. Tidak mudah menceritakan masalah pada orang lain. Apalagi ini tentang perasaan. Tapi Hinata tahu orang seperti apa Naruto. Lebih dari tahu sebenarnya.
“Karena itu… Hinata ingin membuang perasaan ini jauh-jauh jika bisa.” Lanjutnya lagi. Seolah Hinata sudah lelah dengan semua ini. Andai Naruto tahu siapa yang sedang nyabicarakan, Hinata ingin tahu bagaimana reaksinya.
“Kau tahu bagaimana caranya?” Hinata tahu ini aneh atau bisa disebut bodoh, menanyakan hal ini pada Naruto. Tapi mau bagaimana lagi, ketika Hinata mengatakan hal ini padanya. Hal ini membuatnya perlahan-lahan melepas sedikit demi sedikit penat yang nyarasa.
“Kau ingin menyerah?” tanyanya. Kata-kata yang Hinata tak tahu akan keluar dari seorang Naruto. Hinata memandangnya dan mata biru itu balik menatapnya dalam seolah mencari jawaban.
Hinata memalingkan wajahnya kemudian menunduk. Jujur saja Hinata tak tahu. Rasa ini masih begitu kentara, masih begitu terasa. Haruskah Hinata menghapusnya? Membuangnya atau menghilangkannya? Jantungnya bahkan masih berdegup begitu kencang saat didekatnya. Dan hanya dia, orang yang nyasuka yang dapat melHinatakannya.
Hinata menggeleng pelan. “Hinata tidak tahu.” Ujarnya pada akhirnya. Naruto memasang mode berfikir yang menurutnya ekspresinya untuk kesekian kali itu lucu.
“Menurutnya, Berikan dia satu kesempatan lagi, dan cobalah lebih dekat dengannya. Mungkin, dia hanya belum sadar ada seorang gadis baik hati yang jatuh hati padanya.” Kata Naruto dengan tersenyum.
MatHinata melebar mendengarnya, lalu meredup kembali. Senyum Naruto begitu hangat dan menenangkan. Hinata ingin mempercayai kata-katanya dan melHinatakannya. Hinata tahu kalau Hinata yang nantinya akan rugi jika melHinatakan ini. Tapi Hinata juga belum bisa membuang perasaan ini jauh-jauh. Biarlah… biarlah apa yang akan terjadi nanti.
“Orang bilang, gadis baik akan bersanding dengan pemuda baik begitupun sebaliknya. Hinata percaya akan hal itu. Dan menurutnya Hinata adalah gadis yang baik.” Lanjut Naruto.
MatHinata memanas mendengarnya. Hinata hanya bisa mengucapkan, “Arigatou, Naruto-nyan.”
Terimakasih untuk waktu yang kau berikan karena waktu adalah hal yang tidak akan bisa kau kembalikan dan akan menjadi kenangan. Terima kasih karena memberinya sedikit kenangan yang menyenangkan. Karena mungkin lain kali Hinata belum tentu mendapatkannya lagi.
Naruto tersenyum lebar, ia meggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata, “Sama-sama. Hinata hanya mengatakan hal yang Hinata tahu.” Hinata tersenyum mendengarnya.
Sebenarnya itu adalah kalimat biasa, tapi entah kenapa ketika Naruto yang mengatakannya, begitu menenangkan. Rasanya berbeda saja, mungkin karena Naruto tidak pernah berbohong tentang hatinya. Orang-orang mungkin berkata dia polos, naif ataupun bodoh, namun ia hanya mengatakan apa yang ia rasakan. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang menyembunyikan perasaannya. Misalnya sepertinya mungkin.
Mengambil tinta dan selembar kertas dari dalam tas. Hinata menulis sesuatu dan nyamasukkan ke dalam kotak yang nyaletakkan di sebelah kanannya. Hinata melirik jam tangannya, sudah hampir malam. Langit mulai berhiaskan awan gelap. Hinata harus cepat pulang sebelum ayah mengomel panjang lebar. Em… maksudnya menasehatinya agar tak pulang malam. Nyarasa Hinata harus memikirkan sebuah alasan juga.
Hinata bangkit perlahan, menaruh kotak di pangnyaan Naruto dan mengatakan, “Untukmu, nyarasa Hinata tidak akan membutuhkannya lagi.” Sambil berjalan mundur ke belakang, Hinata berteriak, “Jangan dibuka ya, buka saat kau sudah sampai di rumah.” Ucapnya kemudian berbalik badan dan melambaikan tangan tanpa menengoknya lagi.
Naruto yang ditinggalkan Hinata hanya memandang ke arah kotak dan ke arah Hinata yang mulai menjauh. Ia memandang kotak dengan rasa penasaran, sebenarnya isinya apa, bukankah benda ini yang dipegang Hinata di jembatan tadi, pikir Naruto dalam hati.
.
.
.
Ketika sampai di rumahnya, Naruto membuka kotak yang diberi oleh Hinata. Ia buka kotak persegi itu perlahan. Kotak itu mirip kotak untuk menyimpan sepatu, hanya saja dilapisi kertas berwarna dan bergambar. Ketika ia selesai membuka mata, bola matanya melebar. Sepertinya ia banyak terkejut hari ini. Tapi jujur karena suatu hal, hari ini menjadi begitu menyenangkan, pikirnya dalam hati.
Kotak itu kosong, hanya ada secarik kertas. Naruto mengangkat kertas itu untuk dibaca. Tulisan tangan Hinata. Berisi, “ Maaf tidak memberimu apa-apa. Lain kali, kalau kau menolongnya dari percobaan bunuh diri lagi, Hinata akan mentlaktirmu makan.
Dibawahnya ada tulisan lagi. “p.s : Jangan dibuang ya, kotak ini mahal. Hinata beli di toko depan sekolah.” Naruto menggeleng tidak percaya.
[.]
Hinata memandang sebuah benda di depannya dengan dalam. Tak nyaperdulikan adiknya satu-satunya sedang memandangnya aneh dari ujung pintu kamarnya yang terbuka. Hinata tak peduli kalau Hanabi berkata Hinata gila atau apa karena melihatnya bermonolog sendiri di depan sebuah benda. Benda itu sebuah bunya. Bunya harian yang berisi perasaannya selama ini, yang tadinya akan Hinata letakkan di dalam kotak yang nantinya akan Hinata buang. Tapi tidak jadi karena ada Si Rambut Pirang Jabrik itu. Hinata rasa, dia harus bertanggung jawab karena membuatnya gagal. Gagal dalam membuang perasaan menyesakkan tapi menyenangkan ini. Setelah lulus sekolah, Hinata mungkin tidak akan melihatnya lagi. Hinata akan merindukannya. Uzumaki Naruto itu.
Ini belum berakhir, percayalah. Ini baru saja dimulai. Hinata pikir mulai sekarang, Hinata akan berusaha lebih keras. Ketika seseorang yang membuatmu merasakan suatu rasa bernama cinta mendatangimu tanpa diminta. Bagaimana kau dapat menolaknya? Ketika ia malah tanpa sadar membuatnya memberi sebuah kesempatan padanya dan juga pada dirinya sendiri? Hinata harus berusaha dan percaya bahwa yang namanya asa itu selalu ada asalkan kita tidak menyerah.
[.]

Terrarium