Rabu, 17 Oktober 2018

The Beginning

Bagi sebagian orang, masa sekolah adalah masa-masa yang menyenangkan. Penuh persaingan, persahabatan dan juga cinta. Ngomong-ngomong soal cinta, hal itu juga berlaku  bagi seorang Hyuuga Hinata. Gadis pendiam dan pemalu berambut panjang ini dan ia sedang bingung dengan nasib kisah cintanya yang bahkan belum ia mulai.
Seorang gadis berambut panjang bermata amethyst berdiri di sebuah jembatan panjang yang dibawahnya terdapat sungai. Hinata Hyuuga, nama gadis itu, melihat ke arah bawah dengan sedikit ngeri, pasalnya sungai yang berada dibawahnya terlihat deras, seolah mampu menenggelamkan apapun yang terjatuh ke dalamnya atau mungkin faktor hujan yang turun semalam. Tapi tak apa, ia tidak sedang mencoba bunuh diri sekarang.
Hari ini cerah, tapi tak secerah perasaanya sekarang. Hinata, gadis itu,  berdiri seorang diri sambil menyandarkan tubuh bagian depannya di jembatan. Kedua tangannya melewati pagar jembatan yang digunakan sebagai pembatas sambil menggumamkan sesuatu.
“Buang.”
“Tidak.”
“Buang.”
“Tidak. “
“Buang… Tidak.” Ujarnya pelan dengan menggenggam sebuah benda, sebuah kotak.
Hinata memandang kotak persegi di depannya dengan resah. Kotak berwarna biru tua dengan pita senada yang melingkar membungnyasnya rapi. Berkali-kali dirinya mencoba bergelut dengan pikirannya. Sebagian besar logika Hinata menyuruhnya untuk membuangnya, sebagian kecil hati nuraninya menolak.
Besok hari libur. Hinata baru pulang sekolah dan menyempatkan diri kemari. Hinata berdiri di sebuah jembatan yang sepi, tepat di bawahnya sebuah sungai yang bagusnya tidak lagi jernih, mengalir dengan arus pelan.
“Buang saja deh.”
Berharap dengan membuang sebuah kotak ini, Hinata bisa melupakan semua harapannya yang hanya dapat ia pendam dari dulu. Memejamkan matanya, Hinata merasakan angin bertiup, membuat seragam sekolah dan rambut panjangnya berkibar pelan. Hinata menarik nafas dalam, nya coba untuk berfikir bahwa Hinata tidak akan menyesali keputusan ini walaupun dari dalam hatinya Hinata  tahu Hinata akan menyesali perbuatannya setelah ini.
Nyabuka matHinata perlahan, dan memantapkan niat, nyacoba mendekatkan diri lebih dekat dengan pagar jembatan berbahan besi yang diukir sedemikian rupa. Nyalihat air sungai mengalir, cunyap dalam untuk membuat seseorang sepertinya tak kelihatan, jika saja Hinata mencoba menenggelamkan diri.
Tarik nafas dan menghembuskannya kasar, nya coba memandang lagi, air yang mengalir di sungai. Tepat ketika Hinata akan membuangnya, seseorang berteriak memanggilnya, membuatnya kaget dan tanpa sadar melepaskan sebelah tangannya yang menggenggam kotak. Membuat benda itu hampir terlepas dan jatuh. Jantungnya berdegup kencang, hampir saja pikirnya dalam hati. Untuk sekejap Hinata berpikir bahwa Hinata tidak rela melepas semua ini. Namun nya tepis jauh-jauh pikirannya. Hinata rela, sungguh. Hanya saja, Hinata tidak rela jika caranya seperti ini, dikagetkan.
Suara itu memanggilnya lagi, kali ini cunyap keras, “HINATAAA.” Teriak suara itu, yang nyatahu dari jenis suaranya adalah seorang pemuda.
Nya palingkan wajahnya ke arah sumber suara, dan yang nya dapat adalah seorang pemuda berambut pirang jabrik, bermata biru yang terlihat habis berlari, tepat berada di depannya.
Napasnya yang pendek-pendek terdengar begitu jelas sebab jaraknya yang begitu dekat dengannya. Ketika dia berhasil mengatur napasnya dia bertanya, “Apa yang kau lHinatakan?” tanyanya masih dengan suara yang keras, yang dapat membuatnya menutup telinga jika saja Hinata tidak dalam kondisi terkejut.
Hinata mengerjap-ngerjapkan matHinata. Ketika beberapa detik, Hinata berpikir, seharusnya Hinata yang bertanya seperti itu, apa yang dilHinatakan pemuda itu disini? Pikirnya dalam hati.
Dia yang tak nyanjung mendapat jawaban akhirnya bertanya lagi, “ Apa yang kau pikirkan, Hinata? Kau tidak harus melHinatakan ini.”
Masih dalam mode bingung, Hinata bertanya pada pemuda di depannya ini, “MelHinatakan apa?”
“Bunuh diri.” Ucapnya ragu tapi terdengar jelas di telingHinata.
Krik. Krik. Krik. Untuk sekejap hening di antara kami. Setelah beberapa detik, Hinata sadar kami salah paham, atau hanya pemuda di depannya ini yang salah paham.
“Hinata tidak… maksudnya, siapa yang mau bunuh diri?” ujarnya agak kesal, melupakan fakta bahwa sebenarnya Hinata pemalu.
“Kau tidak..?” Mata birunya memandangnya aneh, tapi ada rasa lega di wajahnya. Setelah mengerti apa maksudnya, ia bertanya lagi, “Lalu kenapa kau ada disini?”
Hinata menghela nafasnya lelah. Bukan sifatnya sebenarnya menunjukkan hal itu di depan orang, hanya saja untuk sekejap Hinata merasa kesal padanya. Memangnya orang yang berdiri di jembatan dan melihat sungai ke bawah selalu identik dengan bunuh diri ya, pikirnya.
Hinata melihat pemuda di depannya ini dari atas ke bawah. Ia sama dengannya, masih mengenakan seragam sekolah dengan tas yang ia sampirkan di bahunya. Nya alihkan pandangannya darinya, memilh menatap lurus ke depan sungai. Kedua tangannya masih menggengam kotak persegi. Tampaknya pemuda itu juga tertarik dengan benda yang nya pegang namun enggan bertanya. Hinata tersenyum tipis, mencoba sebuah ide yang tiba-tiba saja muncul.
Entah darimana Hinata mendapat keberanian. Memandangnya lagi dan mencoba berwajah serius, Hinata bertanya, “Kau mengkhawatirkannya ya?”
“Eh, apa?” Entah ini hanya firasatnya, tapi tampaknya dia gugup.
Memalingkan wajah lagi ke posisinya tadi, memandang lurus ke depan sungai, Hinata menunduk pelan, dan berkata dengan nada lirih, “Sebenarnya tadi, sempat terlintas di pikirannya soal bunuh diri.”
Hinata tidak bohong soal hal ini, terkadang di waktu-waktu terberatnya ketika Hinata putus asa, Hinata berfikiran untuk bunuh diri, tapi Hinata sadar, hal itu tidak akan membuatnya terlepas dari semua beban dan hanya akan membuat sedih orang-orang terdekatnya.
 “Kalau tadi nya lHinatakan, paling-paling besok kau akan di wawancarai beberapa polisi dan wartawan.” Lanjutnya lagi. Dia bergidik ngeri, sepertinya membayangkan hal yang aneh-aneh.
Mellihat ekspresinya yang aneh, Hinata tertawa pelan. Seolah sadar, Hinata mengerjainya, dia berkata, “Kau ini benar-benar.” Ucapnya dibuat-buat seolah marah kepadHinata. Dia menampilkan ekspresi cemberut, dan baginya itu lucu.
“Berhenti tertawa, apanya yang lucu?” ujarnya, dengan nada kesal, yang Hinata tahu itu cuma pura-pura.
“Tidak ada.” Hinata menggeleng tapi tetap terkikik pelan. Nya lihat dia juga inyat tersenyum.
“Ayo kesana.” Jarinya menunjuk pada sebuah bangnya di pinggir sungai. Yah sebenarnya jembatan dan nyarsi-nyarsi yang tersedia ini masih dalam kawasan taman kota, walaupun letaknya di pinggir kota. Sehingga tampak sepi. Beberapa pohon besar nan rindang tampak menghiasi ujung jalan jembatan.
Entah sadar atau tidak tapi ia menggenggam tangan kanannya, dan menuntunnya berjalan pelan. Untuk pertama kalinya, ada seorang pemuda selain dari keluargHinata yang memegang tangannya. Hatinya bergetar, rasanya aneh tapi menyenangkan, genggamannya hangat dan Hinata tidak ingin melepasnya.
Tapi memang beginilah hidup, semua harapan tak selalu terkabul. Dia melepasnya saat kami sudah duduk. Kami duduk di bangnya panjang menghadap sungai. Hinata berada di sebelah kanannya. Untuk pertama kalinya juga, Hinata tidak merasa gugup saat berbicara dengan seorang pemuda dalam jarak sedekat ini. Entahlah suasananya mendunyang dan membuatnya nyaman.
Untuk beberapa saat, Hinata dan Naruto, nama pemuda itu, hanya duduk diam, saling melirik menggunakan ujung mata. Hinata sendiri bingung mau memulai pembicaraan seperti apa. Mengingat walau satu sekolah, Hinata hampir tidak pernah terlihat bercakap-cakap dengannya. Setelah cunyap lama,  akhirnya pemuda itu memecah keheningan dengan bertanya, “Mau cerita apa masalahmu?”
“Masalah apa?” Jawabnya pelan, seolah merasa tidak ada yang harus diceritakan. Sebenarnya Hinata hanya enggan menceritakan masalahnya kepada orang lain. Apalagi soal yang satu ini.
“Jika itu tentang ujian sekolah. Tidak perlu dipikirkan. Satu atau dua mata pelajaran nilaimu turun itu tidak akan masalah, berbeda dengannya.” Ujar Naruto dengan suara yang lebih lirih dari sebelumnya.
Benar, untuk sesaat Hinata melupakan fakta bahwa dia satu kelas dengannya. Kami kelas tiga Senior High School dan sebentar lagi akan lulus.  Dalam hati Hinata berkata, Hinata tidak mempermasalahkan ujian sekolah, dan tunggu, dilihat dari mimik wajahnya, kenapa sekarang dia yang merasa frustasi?
Melihat wajahnya yang seperti itu membuatnya ingin tertawa, tapi Hinata menahannya.
“Apa?” Naruto yang melihatnya sepertinya tahu apa yang Hinata sembunyikan.
Entah kenapa melihatnya lagi, tawHinata lolos begitu saja. Hinata melihat dia masih kesal, jadi Hinata menghentikan tawHinata. Hinata menghela nafas pelan. Berfikir, menimbang-nimbang  mungkin tidak ada salahnya menceritakannya pada Naruto. Kelihatannya dia dapat dipercaya. Memandang lurus ke depan tanpa melihat ke arah Naruto, Hinata berkata dengan lirih, “ Ya. Ada.”
“Apa?” sepertinya Naruto tidak mendengar karena suarHinata terlampau pelan.
“Masalah itu… Hinata juga memilikinya. Tapi kenapa Hinata harus menceritakannya padamu?” Hinata hanya ingin tahu kenapa ia peduli padHinata, berikan Hinata sebuah alasan untuk mempercayainya.
“Entahlah, Hinata… hanya ingin meringankan bebanmu.” Pandangannya intens menatapnya, dan biru di matanya itu membuatnya sulit bernafas hingga Hinata memalingkan wajahnya.
“Supaya kau tidak mencoba bunuh diri lagi, mungkin.” Setelah mengakhiri kalimatnya, Naruto tersenyum lebar.
Hinata mendengar nada jahil di suaranya, jadi Hinata membalas, “Mungkin lain kali, Hinata akan mengajakmu terjun juga.” Hinata tersenyum dan Naruto berhenti tersenyum dan cemberut lagi, mengerucutkan bibirnya lucu.
Setelah beberapa lama, Hinata mencoba memulai percakapan. Darimana ya harus memulainya.
“Naruto.” Panggilnya. Naruto yang mendengar nada serius dari suarHinata memalingkan wajahnya padHinata. “Apakah kau pernah jatuh cinta?” Lanjutnya lagi.
“Eh?” Mata birunya agak melebar, tapi kemudian mampu beradaptasi lagi.
Hinata tidak tahu mengapa ekpresinya terlihat terkejut begitu. Apakah dia tidak menyangka Hinata akan membahas topik ini? Secara Hinata begitu pendiam dan tertutup. Bahkan Hinata jarang berbicara pada teman lelaki di kelas.
 Setahunya bukankah Naruto menyukai sahabatnya, gadis berambut merah jambu senada dengan warna SHinatara, seperti namanya. Mengingat hal itu, membuat hatinya menjadi aneh, tapi Hinata tidak mau memikirkannya. Tapi Naruto hanya diam, seolah berfikir, jadi Hinata melanjutkan ucapannya lagi.
Menghela nafas lagi. Entah ke berapakali pada hari ini Hinata melHinatakannya. Ada mitos yang mengatakan kalau menghela nafas dapat memperpendek umur. Nya pikir bukan menghela nafasnya yang membuat masalah tapi stressnya itu. Kalau kita punya koping yang bagus untuk masalah-masalah di sekitar kita. Tentunya kita akan jarang menghela nafas bukan? Sudahlah, lupakan soal itu.
 “A-Hinata… ada seseorang yang Hinata sukai. Sudah begitu lama, Hinata selalu memperhatikannya dalam diam. Berharap suatu hari ia sadar, Hinata menyukainya. Hinata bodoh ya.” Gagapnya kambuh lagi.
Dengan gugup, Hinata memainkan jari-jarinya di atas pangnyaannya. Tasnya Hinata taruh di pangnyaannya, menutupi seragam sekolah bawahnya yang pendek di atas lutut. Tidak mudah menceritakan masalah pada orang lain. Apalagi ini tentang perasaan. Tapi Hinata tahu orang seperti apa Naruto. Lebih dari tahu sebenarnya.
“Karena itu… Hinata ingin membuang perasaan ini jauh-jauh jika bisa.” Lanjutnya lagi. Seolah Hinata sudah lelah dengan semua ini. Andai Naruto tahu siapa yang sedang nyabicarakan, Hinata ingin tahu bagaimana reaksinya.
“Kau tahu bagaimana caranya?” Hinata tahu ini aneh atau bisa disebut bodoh, menanyakan hal ini pada Naruto. Tapi mau bagaimana lagi, ketika Hinata mengatakan hal ini padanya. Hal ini membuatnya perlahan-lahan melepas sedikit demi sedikit penat yang nyarasa.
“Kau ingin menyerah?” tanyanya. Kata-kata yang Hinata tak tahu akan keluar dari seorang Naruto. Hinata memandangnya dan mata biru itu balik menatapnya dalam seolah mencari jawaban.
Hinata memalingkan wajahnya kemudian menunduk. Jujur saja Hinata tak tahu. Rasa ini masih begitu kentara, masih begitu terasa. Haruskah Hinata menghapusnya? Membuangnya atau menghilangkannya? Jantungnya bahkan masih berdegup begitu kencang saat didekatnya. Dan hanya dia, orang yang nyasuka yang dapat melHinatakannya.
Hinata menggeleng pelan. “Hinata tidak tahu.” Ujarnya pada akhirnya. Naruto memasang mode berfikir yang menurutnya ekspresinya untuk kesekian kali itu lucu.
“Menurutnya, Berikan dia satu kesempatan lagi, dan cobalah lebih dekat dengannya. Mungkin, dia hanya belum sadar ada seorang gadis baik hati yang jatuh hati padanya.” Kata Naruto dengan tersenyum.
MatHinata melebar mendengarnya, lalu meredup kembali. Senyum Naruto begitu hangat dan menenangkan. Hinata ingin mempercayai kata-katanya dan melHinatakannya. Hinata tahu kalau Hinata yang nantinya akan rugi jika melHinatakan ini. Tapi Hinata juga belum bisa membuang perasaan ini jauh-jauh. Biarlah… biarlah apa yang akan terjadi nanti.
“Orang bilang, gadis baik akan bersanding dengan pemuda baik begitupun sebaliknya. Hinata percaya akan hal itu. Dan menurutnya Hinata adalah gadis yang baik.” Lanjut Naruto.
MatHinata memanas mendengarnya. Hinata hanya bisa mengucapkan, “Arigatou, Naruto-nyan.”
Terimakasih untuk waktu yang kau berikan karena waktu adalah hal yang tidak akan bisa kau kembalikan dan akan menjadi kenangan. Terima kasih karena memberinya sedikit kenangan yang menyenangkan. Karena mungkin lain kali Hinata belum tentu mendapatkannya lagi.
Naruto tersenyum lebar, ia meggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata, “Sama-sama. Hinata hanya mengatakan hal yang Hinata tahu.” Hinata tersenyum mendengarnya.
Sebenarnya itu adalah kalimat biasa, tapi entah kenapa ketika Naruto yang mengatakannya, begitu menenangkan. Rasanya berbeda saja, mungkin karena Naruto tidak pernah berbohong tentang hatinya. Orang-orang mungkin berkata dia polos, naif ataupun bodoh, namun ia hanya mengatakan apa yang ia rasakan. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang menyembunyikan perasaannya. Misalnya sepertinya mungkin.
Mengambil tinta dan selembar kertas dari dalam tas. Hinata menulis sesuatu dan nyamasukkan ke dalam kotak yang nyaletakkan di sebelah kanannya. Hinata melirik jam tangannya, sudah hampir malam. Langit mulai berhiaskan awan gelap. Hinata harus cepat pulang sebelum ayah mengomel panjang lebar. Em… maksudnya menasehatinya agar tak pulang malam. Nyarasa Hinata harus memikirkan sebuah alasan juga.
Hinata bangkit perlahan, menaruh kotak di pangnyaan Naruto dan mengatakan, “Untukmu, nyarasa Hinata tidak akan membutuhkannya lagi.” Sambil berjalan mundur ke belakang, Hinata berteriak, “Jangan dibuka ya, buka saat kau sudah sampai di rumah.” Ucapnya kemudian berbalik badan dan melambaikan tangan tanpa menengoknya lagi.
Naruto yang ditinggalkan Hinata hanya memandang ke arah kotak dan ke arah Hinata yang mulai menjauh. Ia memandang kotak dengan rasa penasaran, sebenarnya isinya apa, bukankah benda ini yang dipegang Hinata di jembatan tadi, pikir Naruto dalam hati.
.
.
.
Ketika sampai di rumahnya, Naruto membuka kotak yang diberi oleh Hinata. Ia buka kotak persegi itu perlahan. Kotak itu mirip kotak untuk menyimpan sepatu, hanya saja dilapisi kertas berwarna dan bergambar. Ketika ia selesai membuka mata, bola matanya melebar. Sepertinya ia banyak terkejut hari ini. Tapi jujur karena suatu hal, hari ini menjadi begitu menyenangkan, pikirnya dalam hati.
Kotak itu kosong, hanya ada secarik kertas. Naruto mengangkat kertas itu untuk dibaca. Tulisan tangan Hinata. Berisi, “ Maaf tidak memberimu apa-apa. Lain kali, kalau kau menolongnya dari percobaan bunuh diri lagi, Hinata akan mentlaktirmu makan.
Dibawahnya ada tulisan lagi. “p.s : Jangan dibuang ya, kotak ini mahal. Hinata beli di toko depan sekolah.” Naruto menggeleng tidak percaya.
[.]
Hinata memandang sebuah benda di depannya dengan dalam. Tak nyaperdulikan adiknya satu-satunya sedang memandangnya aneh dari ujung pintu kamarnya yang terbuka. Hinata tak peduli kalau Hanabi berkata Hinata gila atau apa karena melihatnya bermonolog sendiri di depan sebuah benda. Benda itu sebuah bunya. Bunya harian yang berisi perasaannya selama ini, yang tadinya akan Hinata letakkan di dalam kotak yang nantinya akan Hinata buang. Tapi tidak jadi karena ada Si Rambut Pirang Jabrik itu. Hinata rasa, dia harus bertanggung jawab karena membuatnya gagal. Gagal dalam membuang perasaan menyesakkan tapi menyenangkan ini. Setelah lulus sekolah, Hinata mungkin tidak akan melihatnya lagi. Hinata akan merindukannya. Uzumaki Naruto itu.
Ini belum berakhir, percayalah. Ini baru saja dimulai. Hinata pikir mulai sekarang, Hinata akan berusaha lebih keras. Ketika seseorang yang membuatmu merasakan suatu rasa bernama cinta mendatangimu tanpa diminta. Bagaimana kau dapat menolaknya? Ketika ia malah tanpa sadar membuatnya memberi sebuah kesempatan padanya dan juga pada dirinya sendiri? Hinata harus berusaha dan percaya bahwa yang namanya asa itu selalu ada asalkan kita tidak menyerah.
[.]

Jealousy


Jealousy
A fanfiction about Anezaki Mamori and Hiruma Youichi
.
.
Duduk di Kafe tidaklah buruk. Apalagi ditemani secangkir Vanilla Latte di depan mata. Uapnya mengepul hilang bergabung bersama udara sekitar. Namun yang jadi masalahnya, Mamori duduk sendirian disini. Sudah puluhan menit berlalu sejak minuman yang dipesannya hadir di depan mejanya. Mamori mengaduk-aduk-aduk minumannya. Mengaduk-aduknya pelan, sepelan perasaannya yang sedang campur aduk saat ini.

Rasanya, Mamori ingin menyalahkan seseorang. Seorang pria berambut pirang yang mengundangnya datang kesini. Dia bilang akan segera datang kembali. Benar, pria itu memang tadinya telah datang namun tiba-tiba pergi. Meninggalkannya sendirian disini. Tidak benar-benar sendirian sebenarnya, karena pria itu meninggalkannya bersama sesuatu yang menemani pria itu selama ini. Sesuatu yang dapat dibilang benda kesayangannya. Namun benda itulah yang sekarang membuatnya kesal, karena benda itu hanyalah sebuah benda. Bukannya orang yang dapat diajaknya bicara.

Mamori melirik benda itu yang ada di sebelah kirinya. Benda itu benar-benar seperti orang karena mempunyai tempat duduk tersendiri. Pria itu mengatakan padanya untuk menjaganya dengan baik. Tak lupa disertai sebuah ancaman. Hah, pria itu memang paling rajin mengancam. Suatu hari, Mamori akan bertanya pada pria itu, lebih penting mana antara dirinya dengan senjata AK-47 milik pemuda itu.

Mamori melihat sekelilingnya untuk mengurangi rasa bosan. Tempat ini cukup ramai. Beberapa orang datang ke tempat ini secara berpasang-pasangan. Entah mengapa hal itu membuatnya merasa tidak nyaman. Oh ayolah, perasaan apa ini. Mamori tidak peduli atau mungkin tidak ingin benar-benar mengetahuinya karena dirinya tahu bahwa itu akan berdampak buruk bagi kesehatan organ di dalam tubuhnya. Sebenarnya tak begitu sopan memandang orang lain yang sedang makan, karena mungkin mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang bersifat privasi. Hal itu membuat Mamori mengedarkan matanya ke arah lain.

Dari balik kaca itu, Mamori dapat melihat beberapa orang berjalan kaki dengan cepat. Meski tetesan air yang menempel di kaca itu mengaburkan pandangannya akan orang-orang yang berada di luar kafe. Namun hal itu tak mengurungkan niat Mamori untuk melihat pemandangan jalanan kota di tengah hujan.

Benar, di luar sedang hujan. Hujan tiba-tiba turun setelah pria itu pergi. Langit sedang menangis saat ini. Padahal cuaca tadi pagi begitu cerah namun anehnya saat sore seperti ini awan mendung tak segan mengundang kabut hitam disertai angin. Hal itulah yang membuat dirinya terjebak disini. Mamori mungkin memilih segera pergi jika orang yang ditunggunya saat ini tak kunjung datang jika cuaca tak berubah menjadi seperti ini.

Mamori juga sempat berpikir bahwa pria itu tak akan datang lagi. Tapi Mamori hanya mempunyai dua pilihan saat ini. Pilihan pertama, menunggu pria itu disini. Berharap dia akan cepat datang dan membuatnya tak lagi merasa bosan. Kedua, memlih menerobos hujan karena tak sanggup lagi menunggu dirinya mati kebosanan. Tapi Mamori lebih memilih pilihan pertama. Dia akan mencoba mempercayai pria itu.

Untuk kesekian kalinya, Mamori melihat pemandangan dari balik kaca yang berembun itu. Di sebrang jalan dari kafe ini terdapat sebuah toko bunga. Mamori mengenali beberapa bunga yang terpajang indah dari balik toko itu. Toko itu rupanya belum ditutup meski cuaca sedang seperti ni. Itu terlihat dari tanda "Open" yang masih tertera di pintu masuk yang terbuat dari kaca di toko itu.
Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Mamori. Matanya segera melirik ke arah pengunjung yang datang. Namun, Mamori menyipitkan matanya tatkala melihat orang itu yang berjalan ke arahnya. Pria itu berambut pirang seperti orang yang sedang ditunggunya. Benar, itu memang dia, Hiruma Youichi.

Mamori memandang cangkir di depannya yang telah habis tak tersisa. Mamori tak berniat untuk memesan lagi minumannya. Dia sudah cukup kenyang melihat pria di depannya. Mamori melirik pria itu yang sedang menyesap sedikit demi sedikit kopi panas yang di pesannya. Mamori pikir, Hiruma mungkin telah mengubah seleranya setelah beberapa tahun ini. Tapi Mamori salah. Dia masih Hiruma yang dulu dikenalnya. Hiruma yang menyukai kopi hitam tanpa gula. Mamori tersenyum tipis. Tapi senyum itu segera menghilang sesaat setelah telinganya menangkap sesuatu.

"Hiruma-kun," panggilan itu bernada mesra.
Suara panggilan yang ditujukan pada pria di depannya sontak membuat Mamori menjadi teringat suatu hal. Mamori ingat bahwa Hiruma tak kembali dengan sendirian beberapa menit yang lalu. Mungkin karena hal itulah yang membuat Mamori tak lagi berselera untuk memesan makanan atau minuman lagi. Perasaan aneh macam apa ini. Tapi sepertinya Mamori mengetahui apa yang dirasakannya saat ini. Suara itu yang membuatnya seperti ini. Suara perempuan yang memanggil Hiruma dengan nada merayu.

Mamori melirik Hiruma yang sepertinya tak terganggu. Dia masih duduk di dekat jendela, tepat di hadapan Mamori , masih menyesap kopi itu dengan pelan dengan tangan kirinya. Pandangan Mamori berganti pada Perempuan itu. Mamori ingin menanyakan suatu hal tapi dirinya urungkan setelah melihat apa yang dilakukan perempuan itu. Mamori terkejut ketika melihat Perempuan yang dia tak dikenalnya itu menempel dengan erat pada Hiruma. Dia memeluk tangan kanan Hiruma hingga dada perempuan itu menyentuh lengan Hiruma. Suatu hal yang lebih membuat Mamori terkejut adalah bahwa Hiruma tak melakukan apapun tentang hal itu.
Mamori menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba untuk mengatur emosinya sendiri. Dia pejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali. Membukanya kembali hanya untuk memandang intens Hiruma. Mamori berharap pria itu menyadarinya tanpa Mamori harus mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kau kenapa, Mamori Sialan?" tanya Hiruma.
Mamori berkedip pelan. Lalu menggembungkan pipinya kesal. Tak sadar hal itu, membuat sudut bibir Hiruma tertarik ke atas. Namun hilang dalam hitungan detik. Pria itu, pintar mengatur ekspresi wajahnya.
"Hiruma-kun, dia siapa?" tanya Mamori pelan namun masih cukup terdengar. Tak dia pedulikan kalau-kalau kata yang diucapkannya tidak sopan mengingat orang yang dibicarakannya ada di depannya.
"Oh, hanya seseorang yang memberi tumpangan payung." Hiruma berbicara sambil menunduk, melihat isi cangkir miliknya. Rupanya kopinya telah habis.
'Lalu, mengapa dia ada disini'" ucap Mamori dalam hati. Namun matanya memandang Hiruma lekat-lekat, berusaha menyalurkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Hei, Kau. Pergilah." Hiruma mengatakan kalimatnya sambil menggeser lengan kanannya agar terlepas dari pelukan maut.
"Tidak mau," perempuan berambut pirang itu bersikokoh tetap tinggal.
Pirang? Untuk kedua kalinya Mamori menyadari satu hal lagi. Rambut perempuan itu pirang, sama seperti Hiruma. Rambutnya panjang bergelombang. Perawakannya juga tinggi dan langsing seperti orang asing. Tapi apa yang membuat Mamori merasa terganggu? Perempuan itu mungkin cantik, tapi Mamori yang menemukan Hiruma terlebih dahulu bukan? Mamori menggeleng pelan, tak percaya akan pemikiran yang melintas di otak kecilnya.
Hiruma mengendikkan kepalanya ke arah kursi yang ada di samping Mamori. Mamori yang mengerti maksud Hiruma, mengambilkan pria itu senjata yang dari tadi diam di tempatnya.
"Pergi atau kutembak disini!" perintah Hiruma sambil menodongkan senjatanya tepat di depan wajah perempuan itu.
"Hanya sebagai tambahan, peluru di dalamnya asli," ujar Mamori.
Mamori ternyata bisa kejam juga. Mamori baru mengetahui sifatnya yang satu ini.
Wajah perempuan itu memucat. Dirinya meringis lalu dengan cepat bangkit membawa tasnya lalu berjalan pergi ke luar kafe. Apa mungkin perempuan itu berpikir Hiruma adalah seorang pria baik-baik atau seorang badboy yang suka bermain wanita? Mamori tidak tahu apa yang membuat perempuan itu tertarik pada Hiruma hanya dengan sekali bertemu. Apa mungkin karena tampangnya?
Mamori memasang pose berpikir. Telunjuknya dia tempelkan di dagunya lalu mulai bertanya-tanya dalam hati. Memandang lekat-lekat pria itu dari ujung kepala sampai setengah badannya karena setengahnya lagi tertutup oleh meja yang menjadi sekat di antara mereka berdua.
"Apa?" tanya Hiruma melirik Mamori. Pria itu sudah sibuk bermain dengan senjatanya. Mengusapnya pelan seperti anjing peliharaan kesayangannya. Berbicara mengenai anjing, bagaimana kabar Cerberus sekarang? Mamori sudah begitu lama tidak melihatnya.
Mamori menggeleng. Nah untuk hal yang satu itu, Mamori juga tidak mengetahui mengapa pelayan Kafe tidak datang untuk menghampiri mereka berdua, sekedar menegur atau melarang mereka karena membawa senjata. Mamori tidak akan bertanya apa-apa jika itu menyangkut Hiruma. Segalanya dapat terjadi jika dia bersama dengan Hiruma. Dari hal yang aneh-aneh sampai yang tak masuk akal sekalipun.
"Puas kau Sekarang?" tanya Hiruma.
Mamori mengangguk dengan cepat. Tak menyadari bahwa dirinya terlihat bersemangat atau dalam hal ini seperti antusias terhadap sesuatu. Hiruma yang melihat hal itu mendengus.
Mamori melirik Hiruma dari sudut matanya. Dia berniat memecah keheningan yang sudah terjadi sejak perempuan itu pergi. Mereka juga tidak memesan apapun. Kali ini Mamori melihat Hiruma yang sedari tadi hanya mengusap senjatanya. Apa dia sebegitu sayangnya pada benda itu? Bagaimana dengan Mamori? Seberapa besar rasa sayang Hiruma padanya? Pikiran itu sontak membuat pipi Mamori terasa hangat.
"Hiruma-kun," lirih Mamori.
"Hmm."
"Untuk apa kau mengundangku kesini?" tanya Mamori memecah keheningan.
Untuk apa? Pertanyaan bodoh, pikir Mamori. Tentu saja. Tapi Mamori tahu Hiruma tidak suka berbasa basi dengannya sehingga Mamori menanyakannya langsung. Mamori sudah menyiapkan telinganya jika saja Hiruma akan mengatainya bodoh. Namun, jawaban Hiruma tidaklah sesuai perkiraannya.
"Tadinya ingin mengajakmu melihat kembaranmu," Jawab Hiruma.
"Kembaran?" tanya Mamori bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati. Kembaran apa yang dimaksud oleh Hiruma? Apa mungkin Monta? Salah satu teman Sena yang dulunya Anggota Demon Devil Bats? Tapi apa hubungannya dengan dirinya?
"Ya, monyet di kebun binatang." Kata Hiruma terlihat yakin.
"Hah?"
Mamori tercengang akan kalimat yang dilontarkan Hiruma. Maksud Hiruma itu monyet sungguhan? Hiruma berniat mengejek Mamori begitu? Namun Mamori dengan cepat meresponnya.
Mamori merengut, kemudian menjawab, "Tidak lucu."
Lalu dirinya pura-pura marah. Dia lipat kedua tangannya ke depan dada, bersidekap.
"Kekekeke."
"Wajahmu bodoh sekali, Mamori Sialan." Lanjutnya lagi.
Mamori melirik dari ujung matanya, melihat Hiruma yang tertawa. Ah, suara tawa itu. Sudah berapa lama dia tidak mendengarnya. Tawa setan ala Hiruma. Hal itu membuat Mamori ikut tersenyum juga. Mamori bahkan sempat berpikir kalau dia rela diejek Hiruma setiap hari kalau dia dapat melihat tawa itu setiap harinya.
Hening, beberapa menit.
Mamori melihat pemuda itu memandang ke luar jendela. Mamori mengikuti pandangannya. Di jalan, terlihat tetesan air dari atas telah berhenti. Langit tak lagi menangis. Hujan itu telah mereda. Namun hawa dingin yang ditinggalkannya terlihat masih tersisa. Mamori tidak mengenakan jaket seperti Hiruma. Dia bisa memastikan kalau udara dingin pasti akan menyambutnya seketika dia keluar kafe itu nanti.
"Hei, " ucap Hiruma.
"Ingin berjalan-jalan di luar?" tanyanya yang membuat Mamori mengerutkan kedua alisnya.
Pertanyaan dari Hiruma sontak membuat Mamori menoleh, melihat wajah Hiruma yang datar. Tapi pandangan itu yang memandang ke luar dari bingkai kaca terasa jauh. Dan Mamori tak suka hal itu. Pertanyaaan itu juga bagaikan rayuan setan. Mamori tak mampu menolaknya. Juga tak ingin melewatkan hal ini. Tak mempedulikan hawa dingin yang datang menghadang. Kesempatan seperti ini tidaklah datang untuk kedua kali.
000
Mamori dan Hiruma kini berjalan di jalanan kota. Mereka kini berniat mencari halte untuk menaiki bus agar dapat pulang. Udara di luar, hasil dari curah hujan yang turun membuat gigil di seluruh tubuh.
Mamori melirik Hiruma yang hanya mengenakan kaos berlengan pendek dan celana panjang berbahan Jins. Jaketnya sudah terpakai dengan rapi di bahu Mamori. Tangan kanannya memegang senjata kesayangannya. Sebelah tangannya lagi menggantung terayun-ayun.
Tidakkah itu terasa dingin?
Mamori ingin melakukan sesuatu. Sesuatu seperti menggenggam tangan Hiruma dengan tangan miliknya tapi akhirnya urung dia lakukan. Mamori memilih berjalan dengan kepala menunduk. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam jaket. Mamori berpikir sesuatu kemudian melirik Hiruma lagi.
"Apa?" tanya Hiruma, melirik Mamori dari sudut matanya.
Mamori terkejut dengan Hiruma yang tiba-tiba bertanya padanya. Namun kemudian Mamori tersenyum kecil melihatnya. Hiruma itu... seperti mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Mamori. Mamori mencoba untuk menanyakan sesuatu.
"Hiruma-kun... Apa kau bisa membaca pikiranku?"
"Tidak, kau pikir aku seorang Peramal!" Jawabnya cepat dengan suara terdengar kesal. Tapi itu memang Hiruma. Dia selalu terlihat kesal. Mamori sudah terbiasa dengan hal itu.
"Lalu mengapa kau selalu tahu jika aku ingin bicara denganmu?" tanya Mamori lagi.
"Itu karena—" Ucapan Hiruma terhenti sesuai langkahnya, membuat Mamori juga menghentikan jalannya. Tidak mungkin kan, Hiruma mengatakan kalau dia memperhatikan tingkah laku Mamori sedari tadi.
"Karena?" tanya Mamori penasaran.
"Karena kau selalu cerewet."
Karena Mamori selalu cerewet jadi Hiruma dapat menerka kalau dirinya akan bertanya begitu? Mamori menggelembungkan pipinya. Itu bukanlah jawaban yang memuaskan. Bukan pula sesuatu yang ingin diketahui Mamori. Karena pada kenyataannya Mamori sudah mengetahui perihal itu. Ketika Mamori masih dalam kekesalannya, Hiruma tiba-tiba saja sudah berada sangat dekat dengannya.
"Kau tahu, seorang Iblis tidaklah tertarik pada iblis juga," Lanjutnya, berbisik pada telinga Mamori. Membuat panas pada telinga Mamori. Nah, apa maksudnya itu? Mamori kan bukan iblis, jadi Hiruma tertarik pada Mamori begitu?
Mamori masih menghentikan langkahnya ketika Hiruma memilih berjalan lagi. Mamori melihat punggung Hiruma yang sudah berada agak jauh di depannya. Hiruma yang tidak merasakan eksistensi dari orang disampingnya berhenti lalu menengok ke arahnya. Mamori memandang Hiruma tepat di depan lensanya.
"Bertambah tua menjadikanmu otakmu melambat sekarang?" tanya Hiruma yang berbalik melihat Mamori.
"Aku tidaklah tua. Kau yang tua, Hiruma-kun."
"Keh, apa kau keracunan cream puff?"
"Apanya yang keracunan, aku bahkan belum memakannya."
Growl. Tiba-tiba saja suara perut Mamori berbunyi. Membuat perdebatan di antara mereka berdua berhenti. Pipi Mamori memerah. Hiruma menyeringai. Mamori baru teringat sesuatu. Dia melewatkan makan siangnya hari ini. Dia pikir, mungkin dia bisa makan sesuatu nanti saat bersama Hiruma. Namun kenyataannya berbeda. Mamori mendesah pelan namun akhirnya mengucapkan sesuatu.
"Kupikir, udara dingin membuatku lapar," ucap Mamori sambil berjalan ke arah Hiruma.
"Keh, kalau lapar bilang saja lapar. Tidak perlu pura-pura."
"Kau pikir salah siapa memangnya?"
Benar. Salah siapa dirinya menjadi tidak nafsu makan tadi. Itu semua salah Hiruma karena membuatnya menunggu kemudian berakhir bertemu dengan wanita itu. Mamori menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya.
Hiruma yang melihat tingkah Mamori hanya tersenyum kecil. "Lalu?"
"Belikan aku makanan."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Aku memaksa." Mamori menarik paksa tangan Hiruma. Dia genggam tangan itu sampai Toko Cream Puff di seberang jalan.
"Tsk...baiklah." Dengus Hiruma, namun tetap menuntunnya ke arah toko itu.
Ini aneh. Mengapa Mamori menjadi kesal dan pemaksa seperti ini? Ini bukan seperti dirinya. Ini seperti Hiruma. Mana mungkin Mamori tertular sifat Hiruma dengan begitu mudahnya bukan? Mamori menyangkal hal itu.
Mamori merubah pemikirannya akan suhu dingin kali ini. dia berkata sebelumnya bahwa dingin akan menyambutnya ketika dia berjalan, melangkah di jalanan kota. Nyatanya, dia sama sekali tidak kedinginan saat ini. karena meski tubuhnya terasa dingin. Jauh di dalam hatinya, dia merasa hangat. Mamori tersenyum tipis, begitu hangat kala pria di sampingnya itu menggenggam balik tangannya. Awan mendung yang hadir. Juga tetesan air hujan yang turun sore ini tidaklah seburuk perkiraannya.
.
.
End.

My Partner


My Partner
A fanfiction about Anezaki Mamori and Hiruma Youichi
.
.
Seorang gadis berambut pendek sebahu tengah berlari menaiki tangga. Nafasnya cepat namun teratur. Mata birunya memandang sekeliling untuk mencari seseorang yang dirinya ingin temui. Seseorang yang selalu saja membuat dirinya khawatir tanpa dia sadari.
Mamori —nama gadis itu— berhenti di sebuah ruangan. Ruangan itu nampak sepi namun masih ada secercah cahaya disana. Matahari senja itu telah turun keperaduan. Petang datang menghadang. Itulah yang membuat ruangan itu sepi tanpa seorangpun disana. Kelas telah selesai satu jam yang lalu. Para mahasiswa Saikyodai nampaknya melewatkan hari ini dengan pulang bergegas ke rumah dengan cepat. Hanya terlihat beberapa orang yang masih berada di wilayah kampus.
Mamori membuka pintu ruangan itu sepelan mungkin. Tak ingin membuat seseorang yang berada di dalam ruangan itu terganggu. Meski Mamori meyakini bahwa tak akan ada orang yang berada di dalamnya. Tetapi Mamori tak ingin melewatkan kemungkinan sedikitpun. Kemungkinan bahwa seseorang yang Mamori cari berada disana.
Mamori melangkah pelan, memandang ke depan tanpa mencoba berkedip sementara waktu. Satu hal yang dia yakini dengan mata kepalanya sendiri saat ini dia melihat seseorang duduk disana, di bangku kuliah. Dia tampak sendirian dan tenang. Sebuah laptop tepat berada di depannya.
Mamori mendekat ke arah orang itu. Setelah jaraknya dengan orang itu kurang lebih dari setengah meter. Mamori tersenyum tipis. Mamori menemukan seseorang yang dia cari saat ini. Benar, itu dia. Tidak salah lagi. Siapa lagi orang yang mempunyai rambut pirang dengan piercing seperti itu? Atau dengan sikap bad boynya itu yang walaupun sekarang tidak kelihatan. Tidak ada, tidak ada lagi selain Hiruma Youichi.
Mamori melangkah lebih dekat lagi. Sekarang baru dia ketahui alasan mengapa ruangan ini tampak sepi. Juga alasan mengapa tak ada balasan akan langkah yang Mamori jejaki beberapa detik yang lalu. Dari jarak kurang lebih 30 centimeter, Mamori melihat bahwa pemuda itu sedang menutup mata. Nafasnya teratur. Tampak dari matanya bahwa dia terlihat lelah. Laptop di depannya yang masih menyala menunjukkan bukti penyebab kerutan di wajah tampan pemuda itu.
Tampan? Iya, tampan. Sadar akan pemikirannya barusan, pipi Mamori memerah. Pompa darahnya dalam sekejap sepakat untuk berkumpul sebentar untuk berada di salah satu bagian wajahnya trrsebut. Kemudian Mamori lebih memilih menjauh dan duduk di samping Hiruma. Mamori melatakkan kepalanya di depan meja. Kedua tangannya dia jadikan bantalan kepala.
Seperti Dejavu, rasanya Mamori pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Namun dalam tempat dan waktu yang berbeda.
Mamori memejamkan matanya sebentar. Dia hirup oksigen dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia miringkan kepalanya kemudian Mamori membuka matanya hanya untuk melihat pemuda itu tepat berada disampingnya. Dengan jarak sedekat ini, dia pandangi wajah Hiruma dalam-dalam. Dari mulai poni rambut yang menghalangi wajah Hiruma yang tertidur bersandarkan pada bangku sehingga dia akan terantuk-antuk apabila dia tidak tidur dengan tenang. Melihatnya Mamori benar-benar tak tega.
Mamori bangkit dari posisinya tadi lalu menggeser letak laptop sebelum mematikannya. Tentu sudah dia pastikan bahwa semua dokumen tersimpan atau nyawanya akan terancam. Mamori melepas jaket yang dikenakannya lalu melipatnya rapi dan menaruhnya di depan meja. Mamori menggapai kepala Hiruma dengan pelan. Dengan kedua tangannya yang berada di masing-masing sisi wajah Hiruma, Mamori menaruh kepala Hiruma pada jaketnya. Tak lupa dia miringkan wajah Hiruma agar menghadap sisi kanan. Melihat posisi tidur Hiruma yang nampak lebih nyaman. Untuk kedua kalinya, Mamori tersenyum tipis.
Lagi, Mamori meletakkan kepalanya di meja. Tak lupa dia miringkan kepalanya ke sisi kiri. Kali ini tanpa kedua tangannya yang menjadi bantalan kepala. Dia tempelkan langsung pipinya ke meja. Kali ini jarak wajahnya sangat dekat dengan Hiruma. Mamori dapat dengan leluasa memandang Hiruma.
Mamori melihat lagi wajah di depannya itu. Dia kemudian berniat meneruskan apa yang tadi tengah dilakukannya namun tertunda. Menelusuri wajah Hiruma. Meski dia akui bahwa dia malu melakukan hal ini namun Mamori tahu bahwa kesempatan seperti ini tidak datang untuk kedua kali.
Mamori melihat alis mata Hiruma, lalu turun ke arah telinga Hiruma yang nampak sedikit panjang seperti telinga Elf. Kemudian begeser ke hidung Hiruma. Mamori memandangnya dalam. Dia merekamnya dalam ingatan jangka panjang. Memunculkan memori itu ketika dibutuhkan.
Mamori memandang Hiruma yang tertidur dengan tenang. Wajahnya nampak damai. Tak telihat bekas-bekas kekejaman yang telah Hiruma lakukan. Andai saja hal ini berlangsung juga saat wajah itu membuka matanya. Namun sepertinya itu mustahil. Tetapi Mamori mengetahui bahwa bukan tanpa alasan Hiruma melakukan hal-hal aneh ataupun jahat itu. Mamori tahu Hiruma akan selalu mempunyai alasan dibalik semua yang dilakukannya. Mamori percaya pada Hiruma meski terkadang Mamori merasa hal yang dilakukan Hiruma terkadang di luar batas kewajaran atau aturan. Namun jika itu masih dalam aturan, maka itu bukan Hiruma namanya. Mamori tersenyum kecil.
Namun senyum itu tak bertahan lama. Dia pandangi wajah itu dalam lagi. Dia mungkin tak akan lagi melihat wajah itu untuk waktu yang sangat lama. Kabar yang dia terima kemarin lusa benar-benar mengejutkannya. Namun harus dia terima dengan lapang dada.
Dalam kepala Mamori saat ini, ada banyak hal yang ingin Mamori tanyakan. Ada banyak hal yang masih belum sempat dia utarakan pada pemilik wajah di depannya ini. Sungguh, Mamori tentu saja berharap bahwa Hiruma bahagia dengan pilihannya. Tapi Mamori juga berharap bahwa dia akan terus ada dalam jalan yang dituju Hiruma.
Mamori menarik napas dalam. Hal yang belum sempat dia utarakan atau mungkin tidak akan bisa dia utarakan itu juga termasuk tentang perasaannya. Rasa aneh yang menjalar ke hatinya tiap kali bersama Hiruma. Rasa hangat yang ada setiap kali Hiruma menolongnya. Juga rasa sesak yang dirasakannya saat ini.
Mamori bahkan tidak tahu sejak kapan dia memiliki perasaan seperti ini. Semuanya mengalir begitu saja. Hari-hari yang dia lalui selama ini. Selama bersama Hiruma. Mamori tidak benar-benar menyadarinya kecuali sampai saat ini. Sampai hari ini.
Sejak kapan Hiruma menjadi penting dalam kehidupannya? Sejak kapan Mamori selalu ingin Hiruma berada dalam langkah yang dilaluinya? Sejak kapan pemuda itu membuatnya gelisah tak menentu seperti ini? Mamori tak mengerti.
Mamori menghela nafas lelah. Hal-hal seperti ini cukup membuat kepalanya terasa berat. Mamori melihat jam yang berada di tangannya. Kemudian memutuskan untuk sebentar saja memejamkan matanya. Benar sebentar saja. Mungkin satu jam. Dia tarik nafasnya dalam hitungan satu,dua, tiga, lalu pergi menuju alam mimpi. Tanpa mengetahui bahwa seseorang yang dia tatap sedari tadi akhirnya membuka matanya tanpa sepengetahuannya.
000
Mamori memandang punggung yang berada di depannya. Punggung yang terlapisi jaket berwarna hitam. Sedang jaket milik Mamori yang berwarna putih telah dikenakannya sendiri. Mamori berjalan lamat-lamat. Memang sengaja dirinya lakukan. Bukti kekesalannya pada pemuda berambut pirang itu. Tidak mau tahu kalau seseorang yang dia pandangi sedari tadi merasakan tatapannya yang menusuk seperti menghantarkan aliran listrik.
Hiruma berhenti berjalan. Membuat Mamori juga ikut menghentikan langkahnya. Hiruma berjarak beberapa langkah di depannya. Mamori harus mendongak untuk melihat wajah itu. Hiruma sepertinya merasakan tatapan yang diberikan kepadanya. Dia membalikkan tubuhnya.
"Kau berjalan seperti siput! Berjalanlah lebih cepat lagi Manager Sialan," ucapnya yang lebih seperti perintah.
Namun satu kalimat yang dilontarkannya tak urung membuat Mamori ingin berjalan dengan cepat. Tubuh tegap pemuda itu berbalik lagi untuk mulai berjalan. Namun langkahnya terhenti sesaat setelah dia rasakan bahwa gadis yang berjalan dengannya malam ini tak kunjung bergegas. Wajahnya kemudian menengok ke belakang.
"Apa yang kau tunggu, Manager Sialan," ujarnya dengan muka kesal. Namun setelahnya berbalik untuk tersenyum kecil. Kecil sekali sampai tak kelihatan di malam ini. Dia hanya suka dengan respon yang diberikan Managernya saat ini.
Mamori menggelembungkan pipinya, tanda bahwa dia kesal. Mamori memandang Hiruma yang kali ini berjalan dengan pelan. Bagaimana Mamori dapat mensejajarkan langkahnya dengan kaki panjang yang dimiliki Hiruma? Oh, Ayolah. Tapi Mamori tahu itu hanya sebuah alasan yang diberikan untuk dirinya sendiri.
Mamori lalu berjalan dengan cepat. Dalam sekejap dia sudah berdiri di samping Hiruma.
" Salah siapa kau tidak membangunkanku, Hiruma-kun. Seharusnya kau membangunkanku jika kau bangun lebih awal." Mamori mengungkapkan semua kekesalannya.
Mamori melirik Hiruma dari sudut matanya. Dapat dia tangkap raut wajah datar yang tertera disana. Sejujurnya, Mamori tidak benar-benar kesal dengan Hiruma, dia tidak marah. Mamori hanya merasa heran. Dia bertanya-tanya dalam hati. Sejak kapan Hiruma bangun dari tidurnya saat itu? Berapa lama Mamori tertidur? dan bagaimana caranya pintu ruangan di kampus belum terkunci padahal sudah malam? Untuk pertanyaan terakhir itu sepertinya Mamori tahu jawabannya.
Mamori melirik jam yang tertera disana. Hampir pukul sepuluh malam. Tadi dia dan Hiruma naik bus dan sekarang sedang berjalan menuju rumah Mamori. Mamori ingin bertanya mengenai mengapa Hiruma mengantarkannya ke rumah padahal arah rumah Mamori dan Hiruma benar-benar berbeda. Tapi Mamori tak mendapat jawaban yang memuaskan. Beberapa menit Mamori telah sampai di depan rumahnya. Hiruma hendak berbalik pergi sebelum mendengar suara Mamori.
"Hiruma.. " panggil Mamori lirih namun masih terdengar jelas di keheningan malam.
"Kau benar-benar harus pergi?" tanyanya lagi.
"Keh, kenapa? Apa kau nantinya akan merindukanku Manager Sialan?" tanyanya menggoda.
Dalam sekejap wajahnya tepat berada di depan Mamori. Menundukkan badannya agar setara dengan Mamori. Namun dia terkejut mendapati wajah serius yang ditunjukkan gadis itu. Mamori tak menjawab. Ingin sekali dia mengangguk namun lehernya serasa kaku. Pandangannya serasa terjerat pada lensa Hiruma.
"Mengapa menjawab pertanyaan dengan balik bertanya?" tanya Mamori. Akhirnya dirinya hanya dapat menjawab pertanyaan Hiruma dengan kalimat seperti ini.
Hiruma menjauhkan wajahnya dan tanpa disangka menepuk kepala Mamori. Satu kali, dua kali, tiga kali tepukan, mungkin. Mamori tak benar-benar menghitungnya dalam hati atau bisa dibilang dia tak dapat berkonsentrasi kali ini. Dia hanya ingin mendengar kata-kata yang akan dilontarkan oleh Hiruma. Entahlah Mamori hanya merasakan sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
"Kau tidak perlu khawatir. Khawatirkan saja Si Chibi." Katanya tersenyum kecil lalu berbalik pergi. Dia lambaikan sebelah tangannya tanpa menengok ke belakang lagi.
Benar, sejak dulu memang Sena yang selalu dia khawatirkan. Juga karena Senalah dia masuk ke Klub Amefuto. Tapi kali ini berbeda. Sena yang sekarang sudah cukup dewasa dan mempunyai keluarga yang akan selalu mendukung dan mengkhawatirkannya. Tapi Hiruma, Mamori selalu melihatnya sendirian. Walau terkadang dia memang dikelilingi teman-temannya. Hiruma memang selalu bersikap keras dan tegar. Tapi Mamori ingin Hiruma dapat bergantung pada seseorang yang berada didekatnya. Meskipun itu sangat sulit.
000
Mamori berjalan di tepi sungai. Kemudian langkahnya terhenti untuk memandang sebuah mahakarya yang selalu tersedia di setiap senja yang menemani. Mamori melihat biar sinar yang terlihat indah memantul pada air di permukaan sungai itu. Kilaunya memanjakan mata. Terdapat beberapa burung yang bermain-main dengan air yang tenang namun terlihat cukup dalam itu. Cukup dalam untuk menggali ingatan Mamori pada sore itu. Beberapa tahun yang lalu.
Di tepi sungai, seorang gadis terlihat menunduk. Dia pandangi sepatu hitamnya. Tas yang terselip diantara bahunya, dia biarkan jatuh di atas tanah. Tiba-tiba saja bahunya bergetar. Matanya memanas. Angin sore itu mengibarkan surainya yang pendek. Senja hari itu tak lagi dapat menenangkan hatinya. Kabar yang dia terima benar-benar memukul telak ulu hatinya.
"Hiks.. Hiks.." Mamori ingin menjerit namun rasanya tak mampu. Dia jatuhkan dirinya ketika lututnya tak lagi mampu menopang dirinya. Duduk bersimpuh sendirian.
Setelah kepergian pemuda itu ke Amerika beberapa minggu yang lalu. Mamori juga tak berharap banyak jika pemuda itu akan mengabarinya terlebih dahulu sebelum kembali ke tanah air. Dia sadar bahwa Mamori mungkin bukan siapa-siapa bagi pemuda itu. Tapi Mamori harap, dia tak akan mendapat kabar yang membuat harinya buruk.
Namun hari yang dia tunggu-tunggu telah sirna. Tepat beberapa hari yang lalu, pemuda itu harusnya pulang. Namun pesawatnya jatuh dan terbakar. Para penyelam dan tim penyelamat mencoba yang terbaik untuk menemukan dan memberi kabar pada keluarga korban. Namun sampai hari ini, tak ada nama Hiruma Youichi sebagai korban yang ditemukan. Apa yang terjadi padanya? Mamori selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Kepalanya selama beberapa hari itu hanya terisi nama Hiruma, Hiruma, dan Hiruma. Tidak ada hal lain selain dirinya.
Suara desing kereta di dekat jembatan yang berada di sungai mengantarkan kembali kenyataan yang terjadi pada hari ini. Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu. Sampai kapanpun Mamori menunggu orang itu. Jika pada kenyataannya orang itu tiada maka Mamori tidak akan dapat menemuinya kan? Mamori menghela nafasnya.
Tapi entah kenapa, Mamori ingin melihat lebih dekat sungai itu. Maka dari itu, dia menuruni anak tangga yang menjadi jalan untuk menuju sungai. Dia menuruninya dan sekarang berada di dekat sungai itu. Dia pandangi sungai itu yang terdapat bayangannya sendiri. Dia pandangi lebih dalam wajah yang tertera di dalam debur ringan arus sungai itu. Pandangannya kosong.
"Kau mau bunuh diri ya?"
Suara seseorang dari belakangnya sedikit mengejutkan Mamori. Dia balik badannya untuk melihat lebih jelas seseorang itu.
"Kalau mau bunuh diri, jangan libatkan aku." Orang itu mengatakannya dengan keras. Topi yang dikenakannya menutup hampir setengah wajahnya. Angin bertiup mengibarkan surai orang itu.
Surai... Mengingat kata itu membuat Mamori menyipitkan matanya. Beberapa detik kemudian, matanya melebar. Surai orang itu pirang. Pirang itu mengingatkannya pada Hiruma. Mungkinkah?
"Ada apa, Manager Sialan?" orang itu berkata sambil melepas topinya dengan tangan kanannya. Dia melangkah menuruni anak tangga lalu berhenti disana.
Mamori melotot. Dia terkejut tidak percaya dengan apa yang ada di depannya. Dia ingin berkata-kata namun tidak bisa. Suara itu... suara yang dirindukannya selama ini. Dan wajah itu, Mamori ingin menyentuhnya. Mamori tidak salah lihat kan? Mamori tidak dalam delusinya kan? Mamori melangkah maju. Masih tidak percaya, dia berjalan pelan. Sedang orang itu tersenyum kecil.
Mamori melangkah maju menaiki anak tangga. Dia berjalan pada anak tangga yang lebih tinggi dari Hiruma sehingga tinggi mereka berada pada jarak yang kurang lebih sepadan. Mamori mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi Hiruma. Hiruma yang disentuh hanya mengerutkan alis matanya.
Tuhan... ini nyata. Orang di depannya benar-benar seseorang yang selama ini dia rindukan.
"Yokatta... Yokatta ne," ucap Mamori dengan menunduk.
Butiran air mata dengan perlahan menuruni pipinya lalu terjatuh. Kemudian dalam sekejap mata, Mamori merasakan pelukan seseorang. Hiruma memeluknya ringan, melingkarkan pinggangnya dengan tangan kirinya. Topi yang dia pegang dengan tangan kanannya sudah terjatuh di dekat kakinya. Tangan kanannya dia gunakan untuk menepuk lembut rambut Mamori yang telah memanjang.
Mamori menenggelamkan wajahnya pada bahu Hiruma. Tidak peduli tangisnya membasahi baju Hiruma. Dia hanya ingin merasakan keberadaan orang itu. Keberadaan orang itu yang menenangkan dirinya.
Hiruma menjauhkan dirinya untuk mengambil topi yang berada di kakinya. Mengambil topi itu kemudian mengenakannya pada Mamori. Memakaikannya hampir membuat wajah Mamori tertutupi sebagian.
"Wajahmu jelek, Manager Sialan. Jangan perlihatkan wajah seperti itu lagi padaku nanti." Hiruma berkata sambil menaiki tangga. Kedua tangannya dia selipkan pada saku celananya.
Mamori tidak mengangguk, tidak juga menggelengkan kepalanya. dia memandangi dalam-dalam punggung Hiruma yang akan pergi berjalan. Hiruma yang sudah berada di jalan utama menengokkan kepalanya memandang wajah Mamori. Dia menghela nafas.
"Manager Sialan..." Hiruma mengulurkan sebelah tangannya. Mamori ingin menyambut uluran tangannya namun tertahan dengan kalimat yang kemudian dikatakan Hiruma.
"Ayo sekali lagi, jadi partnerku," Lanjutnya.
"Partner Hidup?" tanya Mamori pelan.
Hiruma tanpa sadar mengangguk. Lalu beberapa detik kemudian wajahnya pucat.
"Eh?" Hiruma terkejut namun dengan segera mengatur ekspresinya kembali.
Mamori tertawa renyah. Tidak disangkanya Hiruma dapat dia kelabui. Mamori bahkan tak menyadari sejak kapan tangisnya berhenti. Dia juga tak sempat malu akan kelakuannya.
"Aku bercanda," katanya tersenyum lalu berjalan mendahului Hiruma.
Hiruma dapat melihat ada getir dalam nada suaranya. Ada kelabu dalam mata birunya. Ada senyum tak lengkap yang terlukis dibibirnya. Dia melihat punggung Mamori lalu melihat tangannya. Tangan yang tadi sempat diulurkannya namun belum sempat tersambut. Hiruma merasa kosong dalam genggamannya.
"Kenapa tidak, Mamori Sialan?"
"Bukan ide yang buruk," kata Hiruma lalu mensejajarkan langkahnya dengan Mamori.
"Eh?" Mamori mendongakkan kepalanya untuk melihat Hiruma. Mamori tidak mengerti.
"Asal kau tidak keberatan anak-anakmu jadi iblis nantinya," ucapnya lalu tersenyum lebar. Menampakkan gigi-giginya yang runcing. Dia seperti menemukan satu tujuan yang baru.
Satu detik, dua detik, tiga detik... otak Mamori berproses, hanya untuk menemukan jawaban atas kalimat Hiruma. Namun pada akhirnya pipinya memerah. Mamori baru menyadari sekarang bahwa pertanyaannya tadi lebih seperti sebuah lamaran. Oh...Tuhan, harus ditaruh dimana wajah Mamori sekarang.
Dalam langkah pelannya, ditemani semilir angin yang menemani mereka berdua. Mamori mengangguk. Dia ingin sekali lagi menjadi partner dari orang di sampingnya ini. Langkah mereka yang sejajar menawarkan berbagai hal. Salah satunya satu tujuan yang telah tercapai. Senja hari itu, menghantarkan hangat pada setiap sel ditubuh mereka.
The End.

Selasa, 03 Juli 2018

Tempat ternyaman di dunia

Here
Hei!
Izinkan aku bermimpi!
Ini mungkin hanya sekedar mimpi ataupun angan. Aku tidak tahu bedanya. 
Atau mungkin ini hanyalah keinginan belaka.
Setidaknya, aku ingin mempunyai satu tempat yang membuatku nyaman.
Tidak perlu sebuah desa, kota apalagi negara.
Hanya sebuah tempat. Sebuah ruangan. Satu ruang.
Dimana aku dapat tertidur dengan nyaman dan juga aman.

Ketika aku membuka mata di pagi hari. Cahaya pagi yang hangat. Udara sejuk yang menyambut tatkala jendela terbuka. Juga secangkir teh yang menemani. Izinkan aku mempunyai satu hal itu.

Terrarium